The sweetest thing a husband might say

For me it’s not “I love you”. It’s much more than than.

When after a long day with your kid, you attend to your husband’s needs while simply said, “It’s okay dear, I haven’t really been doing anything actually…” And he answered, “How come you haven’t been doing anything. You’ve done everything​, all day. You must be really tired.”

And all the exhaustion suddenly gone πŸ™‚

Kenapa saya memilih bergabung menjadi Book Advisor MDS

Kadang-kadang, saya, Emak Piyo, suka mikir ya, ngapain sih beli buku buat anak banyak amat? Udah gitu ceritanya saya kan kepincut banget ya sama paket-paket buku MDS kayak Halo Balita, Wonderful Al Qur’an, dan macam-macem lagi; terus beli, dan akhirnya memutuskan untuk ikut jadi tim marketingnya. Biar semakin menebar kecintaan untuk membaca gitu maksudnya. Plus dapet diskon GEDE kalo belanja hahaha.

Setelah dipikir-pikir, sekalian minjem bahasanya sales asuransi 😎 bener juga sih kalo yang namanya beli buku itu…investasi. Sekali beli dapet puluhan buku. Isinya juga bagus pake BANGET. Terus Piyo gampang banget menyerap informasi yang dibacain Emak Babehnya dari buku. Dari mulai cerita moral dan ibadah sederhana sampe gimana sistem pencernaan manusia bekerja, gampang banget pokoknya dia belajar kalau udah baca buku. Untuk buku-buku bermuatan spiritual, bahkan investasinya bukan sebatas untuk pengetahuan duniawi, tapi juga investasi akhirat (Aamiin ya Allah mudah-mudahan bener ini). Belum lagi kalau punya anak lebih dari satu, beuh, itu mah investasi banget. Kakaknya selesai baca, bisa dipake adeknya, adeknya lagi, dan lagi dan lagi… 😹

Buku anak, apalagi yang sistemnya paket, buat Emak-Babeh Piyo, bikin hidup kami sederhana. Tinggal bacain aja ceritanya. Dari satu buku ke buku lain topiknya berkesinambungan. Jadi kan nggak rempong ya cyiin buat ngajarin topik tertentu ke anak. Kayak pas ngajarin tentang Rukun Islam, tinggal bacain buku yang tema solat, wudlu, lanjut tema puasa, cincay deh. Lumayan mempersingkat waktu buat googling sana sini dan hemat kuota internet pastinya. Kan lumayan kuotanya mendingan dipake streaming drakor #Eh. Makanya pake internet unlimited napaaaa #EhLagi

Buku anak yang sistemnya paket kan mahal? Ehm… buat Emak Piyo, mahal atau murah itu relatif, awal bulan atau akhir bulan wkwkwkkk… 😹 Selama Babeh Piyo baru gajian, semua akan tampak bersinar dan menggoda iman, eh, salah deng. Menggoda jempol berkarya di menu e-banking dan m-banking (karena bayar pake lembaran berpeci udah ga kekinian) 😎

Nggak deng, serius ini. Mahal atau murah itu tergantung persepsi. Kalo Emak Piyo suka bikin Babeh Piyo merasa bersalah dengan mengungkit-ungkit kenyataan bahwa harga jam tangannya, yang cuma berguna pas dipake lari DOANG, bisa dapet TIGA paket buku anak! Belum lagi perlengkapan sepeda, gadget… Cih! Beli jam tangan buat dipake sendiri mauuuu….beli buku buat anaknya ngituung…dan sang Babeh pun langsung luluh. Hahahahahhhhhh… 😹

Eh tapi beneran sih, sebenernya ga mahal juga sih…harga buku anak sepaket yang isinya PULUHAN dan digadang-gadang sebagai produk premium itu juga masih jauh lebih murah dibanding sepaket Kiehl’s atau L’Occitane. Eh ga usah jauh-jauh deng, sama sepaket SK-II plus gempuran tawaran mbak-mbak SPGnya yang luar biasa setelah lihat hasil Magic Ring itu juga masih kalah. Jadi apanya yang premium yak? Terus ketika udah beli paket buku buat Piyo, si Emak juga dapet semacam peace of mind… Yes!! Buku buat Piyo udah kebeli, jadi sekarang mari melipir ke….*sensor* (daripada kebaca sama Babeh Piyo wkwkwk).

Hahaha…ya jadi begitulah…curcol seputar buku buat Piyo. Udah lumayan terdengar kayak sales MLM belom? 😎 😹😹😹 Kalo belom, sekalian lah saya kasih nomer WhatsApp yang bisa dihubungi kalau-kalau ada Emak Babeh di luar sana yang pengen anaknya hobi baca juga. 0856-1144-306. Inga-inga, khusus WhatsApp ya cyin, yang nelpon kayak sales kartu kredit ga akan saya ladenin #MukaLempeng.

Akhirul kalam, mengutip salah satu TV series favorit Piyo, “When we have a question, we look…in a book! Super Reader!!”

Sekian.

Ternyata J&T bisa jemput paket hari Minggu!

The title sums it all. Udahan deh nulisnya hahaha…

Ga deng. Sebagai pelaku bisnis online yang juga harus ngasuh balita (halah), saya bersyukur banget nih ada ekspedisi yang bikin layanan pick up alias jemput paket. Nggak pake jumlah minimum lagi πŸ˜€

Nah, beberapa kali nyoba pake J&T ternyata kirimannya juga cepet banget nyampenya. Masak pernah ngirim ke Bandung, ga sampe 24 jam udah sampe. Meeeeen! Dengan harga yang sama kayak ekspedisi tetangga loh ini.

Ah, intinya sih, bahagiaaaa… Lagi sakit ga bisa keluar rumah, bisnis bisa tetep jalan, bahkan di hari Minggu πŸ˜‰

Well done J&T!

Memukul itu tidak baik…

Suatu hari, Piyo dipukul temannya di sekolah. Terlepas dari apapun pemicu konfliknya, saya memaklumi saja karena balita masih belajar bagaimana merespon segala hal di sekitar mereka. Terkadang hal-hal yang mereka rasa mereka sampaikan dalam bentuk tangisan, diam, atau respon fisik seperti memukul. Sesampainya di rumah, saya ajak Piyo ngobrol.

“Kakak tadi kenapa di sekolah?”
“My friend was not nice, he hit me and I cried!”
“Loh terus kenapa harus nangis, kan crying will not solve the problem?”
“Because he hurt me and I couldn’t hit him back”
“Why?”
“Because if I hit him, he will hit me again and I hit him again and he hit me again and again!”

Ach so….

Sebersit rasa bangga muncul dari jawaban yang Piyo berikan. Ternyata apa yang selama ini berusaha kami tanamkan, bahwa kekerasan bukanlah cara menyelesaikan konflik, berhasil dimengerti olehnya.

Percakapan kami masih menggantung sampai sana. Saat ini solusi yang bisa kami berikan pada Piyo adalah memberi tau sang teman bahwa menyakiti teman lain itu tidak baik, menjauh dari konflik atau meminta bantuan ibu guru ketika Ia mengalami hal tak menyenangkan dari kawan sebayanya di kelas.

Suatu hari nanti kami akan ajarkan Piyo bagaimana melindungi dirinya ketika mendapat serangan fisik, namun tidak sekarang. Ia harus paham dulu perbedaan antara baik dan tidak baik, dan harus mengerti kapan Ia boleh membela dirinya.

Semoga sifat bijak benar-benar menjadi bagian dari dirinya, sebagaimana kami selipkan doa itu pada namanya. Aamiin…

Mengapa kami ingin Piyo mandiri

…..karena kami tak tau berapa sisa umur kami

Iya, kami ingin Piyo sesegera mungkin bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri dan sesedikit mungkin menjadi beban bagi orang lain ketika kami sudah tak ada.

Kami, orangtuanya, tentu saja berdoa agar kami diberi kesehatan dan umur panjang untuk menjaga amanah Tuhan yang satu ini. Manusia bisa berkehendak namun Tuhan-lah yang punya kuasa. Maka persiapkanlah segala sesuatunya selagi mampu, tak salah kan? πŸ™‚

Ketika ingin menonton bioskop dan ada titipan Tuhan yang harus dijaga…

Saya takjub melihat banyaknya anak kecil (bayi, balita, dan anak2) yang dibawa orangtuanya menonton Warkop DKI Reborn. Please Parents, ada alasan kenapa film ini diberi rating 17+. Simak bahasa yang digunakan, humor dewasa yang disajikan, serta adegan2 tak layak tonton bagi anak lainnya.

Otak anak seperti spons, mereka belajar dari apa yang disajikan di sekitar mereka. Maukah Anda melihat anak Anda tumbuh dengan menganggap bermain perempuan, berkata kasar, dan bertindak tanpa berpikir ttg tanggung jawab – sebagai hal yang wajar? Tolong, bijaklah dalam memilih tontonan utk anak.

Memang terkadang orangtua juga butuh istirahat dari kegiatan parenting yang menjemukan dan terasa tanpa akhir. Ingin menonton film terkini? Bisa kok, kami sering lakukan. Ada beberapa alternatif yg bisa dilakukan tanpa harus membawa anak ke dalam ruangan bioskop dan ikut menonton.

Pertama, bergantian shift nonton dan menjaga anak dgn suami. Jadi nontonnya sendiri2 gitu? Iya. Memang terasa tidak ideal, tapi pilih mana, berkorban nonton bioskop sendirian atau anak tumbuh belajar mengatai orang lain bodoh adalah hal wajar?

Kedua, titipkan anak ke sanak saudara ketika orangtua ingin menonton berdua. Ini hanya bisa dipraktekkan apabila tinggal dekat dengan keluarga besar.

Ketiga, tunggu saja sampai versi DVD-nya keluar dan tonton berdua dengan pasangan ketika anak sudah tidur. Nggak kekinian dong? Lho..balik lagi pilih mana coba…

Tenang Parents, anak-anak tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Segera, mereka akan beranjak dewasa dan Anda akan bebas melakukan apapun yang Anda mau. Ingatlah bahwa anak adalah titipan Tuhan untuk Anda… πŸ™‚

However, apart from that, it is actually pretty good. We had a pretty good laugh throughout the movie πŸ™‚

————-
Sebuah catatan dari pasangan yang pernah tinggal jauh dari keluarga besar (iya, semacam beda benua gitu sama keluarga), membesarkan anak tanpa bantuan siapa-siapa, dan tetap bisa menikmati film-film terkini tanpa harus mengorbankan anak. Cheers!

Makna, bukan harga, Mommy…

Suatu hari saya berjanji pada Piyo untuk membelikan mainan masak-masakan. Maka pergilah kami ke sebuah toko mainan di kawasan BSD dekat rumah neneknya. Sesampainya di sana, saya berusaha mengarahkan pilihannya pada mainan-mainan keren yang harganya tentu tidak begitu murah. Namun coba tebak apa yang hari itu kami bawa pulang? Satu set mainan masak-masakan seharga tak sampai sepuluh ribu rupiah yang diobral di teras toko mainan dan sukses membuat Piyo tertawa lebar. Mainan set dapur keren yang saya harap dia pilih ternyata tak menarik hati si balita.

Sepulangnya kami dari sana, saya merenung. Ah, betapa memalukannya saya! Hari itu saya belajar bahwa merk dan harga tidak menentukan makna sebuah benda. Balita saya mengajarkan itu pada saya, bahwa kebahagiaan tidak diukur dari harga. Betapa sesungguhnya kita, orangtua, yang membentuk pola pikir anak bahwa barang merk A, B, C adalah barang yang lebih baik. Barang yang mahal adalah yang lebih keren.

“Ayo pakai sepatu Nike-mu, Nak!”
“Mana mobil-mobilan Little Tikes-mu?”
“Oh bagusnya Lego yang kau susun!”

Kita sodori anak-anak kita yang polos dengan gambaran orang dewasa akan nilai, gengsi, dan harga. Padahal di mata anak-anak, benda-benda itu hanyalah sepatu, mainan, dan balok susun.

Hmm…memang, seringkali pelajaran berharga bisa kita dapat dari sumber yang tak terduga. Terima kasih, Piyo πŸ™‚