Memukul itu tidak baik…

Suatu hari, Piyo dipukul temannya di sekolah. Terlepas dari apapun pemicu konfliknya, saya memaklumi saja karena balita masih belajar bagaimana merespon segala hal di sekitar mereka. Terkadang hal-hal yang mereka rasa mereka sampaikan dalam bentuk tangisan, diam, atau respon fisik seperti memukul. Sesampainya di rumah, saya ajak Piyo ngobrol.

“Kakak tadi kenapa di sekolah?”
“My friend was not nice, he hit me and I cried!”
“Loh terus kenapa harus nangis, kan crying will not solve the problem?”
“Because he hurt me and I couldn’t hit him back”
“Why?”
“Because if I hit him, he will hit me again and I hit him again and he hit me again and again!”

Ach so….

Sebersit rasa bangga muncul dari jawaban yang Piyo berikan. Ternyata apa yang selama ini berusaha kami tanamkan, bahwa kekerasan bukanlah cara menyelesaikan konflik, berhasil dimengerti olehnya.

Percakapan kami masih menggantung sampai sana. Saat ini solusi yang bisa kami berikan pada Piyo adalah memberi tau sang teman bahwa menyakiti teman lain itu tidak baik, menjauh dari konflik atau meminta bantuan ibu guru ketika Ia mengalami hal tak menyenangkan dari kawan sebayanya di kelas.

Suatu hari nanti kami akan ajarkan Piyo bagaimana melindungi dirinya ketika mendapat serangan fisik, namun tidak sekarang. Ia harus paham dulu perbedaan antara baik dan tidak baik, dan harus mengerti kapan Ia boleh membela dirinya.

Semoga sifat bijak benar-benar menjadi bagian dari dirinya, sebagaimana kami selipkan doa itu pada namanya. Aamiin…

Mengapa kami ingin Piyo mandiri

…..karena kami tak tau berapa sisa umur kami

Iya, kami ingin Piyo sesegera mungkin bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri dan sesedikit mungkin menjadi beban bagi orang lain ketika kami sudah tak ada.

Kami, orangtuanya, tentu saja berdoa agar kami diberi kesehatan dan umur panjang untuk menjaga amanah Tuhan yang satu ini. Manusia bisa berkehendak namun Tuhan-lah yang punya kuasa. Maka persiapkanlah segala sesuatunya selagi mampu, tak salah kan?🙂

Ketika ingin menonton bioskop dan ada titipan Tuhan yang harus dijaga…

Saya takjub melihat banyaknya anak kecil (bayi, balita, dan anak2) yang dibawa orangtuanya menonton Warkop DKI Reborn. Please Parents, ada alasan kenapa film ini diberi rating 17+. Simak bahasa yang digunakan, humor dewasa yang disajikan, serta adegan2 tak layak tonton bagi anak lainnya.

Otak anak seperti spons, mereka belajar dari apa yang disajikan di sekitar mereka. Maukah Anda melihat anak Anda tumbuh dengan menganggap bermain perempuan, berkata kasar, dan bertindak tanpa berpikir ttg tanggung jawab – sebagai hal yang wajar? Tolong, bijaklah dalam memilih tontonan utk anak.

Memang terkadang orangtua juga butuh istirahat dari kegiatan parenting yang menjemukan dan terasa tanpa akhir. Ingin menonton film terkini? Bisa kok, kami sering lakukan. Ada beberapa alternatif yg bisa dilakukan tanpa harus membawa anak ke dalam ruangan bioskop dan ikut menonton.

Pertama, bergantian shift nonton dan menjaga anak dgn suami. Jadi nontonnya sendiri2 gitu? Iya. Memang terasa tidak ideal, tapi pilih mana, berkorban nonton bioskop sendirian atau anak tumbuh belajar mengatai orang lain bodoh adalah hal wajar?

Kedua, titipkan anak ke sanak saudara ketika orangtua ingin menonton berdua. Ini hanya bisa dipraktekkan apabila tinggal dekat dengan keluarga besar.

Ketiga, tunggu saja sampai versi DVD-nya keluar dan tonton berdua dengan pasangan ketika anak sudah tidur. Nggak kekinian dong? Lho..balik lagi pilih mana coba…

Tenang Parents, anak-anak tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Segera, mereka akan beranjak dewasa dan Anda akan bebas melakukan apapun yang Anda mau. Ingatlah bahwa anak adalah titipan Tuhan untuk Anda…🙂

However, apart from that, it is actually pretty good. We had a pretty good laugh throughout the movie🙂

————-
Sebuah catatan dari pasangan yang pernah tinggal jauh dari keluarga besar (iya, semacam beda benua gitu sama keluarga), membesarkan anak tanpa bantuan siapa-siapa, dan tetap bisa menikmati film-film terkini tanpa harus mengorbankan anak. Cheers!

Makna, bukan harga, Mommy…

Suatu hari saya berjanji pada Piyo untuk membelikan mainan masak-masakan. Maka pergilah kami ke sebuah toko mainan di kawasan BSD dekat rumah neneknya. Sesampainya di sana, saya berusaha mengarahkan pilihannya pada mainan-mainan keren yang harganya tentu tidak begitu murah. Namun coba tebak apa yang hari itu kami bawa pulang? Satu set mainan masak-masakan seharga tak sampai sepuluh ribu rupiah yang diobral di teras toko mainan dan sukses membuat Piyo tertawa lebar. Mainan set dapur keren yang saya harap dia pilih ternyata tak menarik hati si balita.

Sepulangnya kami dari sana, saya merenung. Ah, betapa memalukannya saya! Hari itu saya belajar bahwa merk dan harga tidak menentukan makna sebuah benda. Balita saya mengajarkan itu pada saya, bahwa kebahagiaan tidak diukur dari harga. Betapa sesungguhnya kita, orangtua, yang membentuk pola pikir anak bahwa barang merk A, B, C adalah barang yang lebih baik. Barang yang mahal adalah yang lebih keren.

“Ayo pakai sepatu Nike-mu, Nak!”
“Mana mobil-mobilan Little Tikes-mu?”
“Oh bagusnya Lego yang kau susun!”

Kita sodori anak-anak kita yang polos dengan gambaran orang dewasa akan nilai, gengsi, dan harga. Padahal di mata anak-anak, benda-benda itu hanyalah sepatu, mainan, dan balok susun.

Hmm…memang, seringkali pelajaran berharga bisa kita dapat dari sumber yang tak terduga. Terima kasih, Piyo🙂

Menjadi lokal

Berita terkini yang gak penting penting banget. Kita udah balik!😀

Berangkat bawa bayi umur 12 bulan, pulang bawa balita hampir tiga tahun, yang berarti doi belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya. Bukan, bukan karena kita sok ngenggres. Kita gunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, tapi karena kita mengikutkan Piyo ke seabrek kegiatan di luar rumah, otomatis dia belajar berkomunikasi dalam Bahasa Inggris…dan Spanyol. Well, we lived in California

Yang mau saya ceritakan kali ini nggak lepas dari masukan nyaris semua orang untuk mencarikan Piyo sekolah internasional untuk memelihara kemampuan Bahasa Inggrisnya. Hmm… Ya ya ya. Tau sekarang Piyo sekolah dimana? Di PAUD seberang jalan😀

Keputusan kami untuk menyekolahkan Piyo di sekolah lokal tidak lepas dari pilihan kami untuk mendidik Piyo untuk menjadi “lokal” dimanapun kita berada.

Ketika kami tinggal di California misalnya, kami nggak mau bersusah payah mencarikan Piyo kegiatan yang melibatkan anak-anak dari berbagai bangsa. Just the local ones will do. Dan terbukti cara ini berhasil menjadikan Piyo lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dalam artian sama sekali baru. Orang baru, bahasa baru, budaya baru.

Begitu pula dengan makanan. Ketika kami tinggal di Amerika, kami juga nggak mau bersusah payah bikin soto ayam atau nasi kuning untuk makan. Pasta, keju, quesadilla, yuk mariiiii…

Intinya? Hidup kami…sederhana.

Sekarang pun begitu. Kami tinggal di Jakarta. Piyo harus bisa beradaptasi dengan panasnya, bahasanya, budayanya. Dia yang biasa makan keju pun harus puas dengan tahu tempe😀

Simpel. Ini bagian dari proses belajar. Kami mau dia tumbuh dengan tentang hidup yang lebar.

Tentang Bahasa Inggris. Tenang…kami juga tak akan membiarkan head start itu hilang begitu saja😉 Piyo tetap berbahasa Inggris di rumah dan tempat aktivitas tambahannya. Mudah…dan murah. Hahahaha…

Jadi intinya? Jadilah lokal, dan hidupmu akan menjadi lebih indah😀

-BubuPiyo-

MY Museum: The Best Investment EVER

Sudah jamak kalau di setiap kota, atau setidaknya county (semacam kumpulan kota-kota yang dikategorikan satu regional) di Amerika ini, ada satu children’s museum yang seperti namanya, didedikasikan khusus untuk anak-anak. Mendengar kata museum, awalnya saya sebagai orang Indonesia tulen membayangkan benda-benda membosankan yang dipamerkan hanya untuk dilihat-lihat. Apa asiknya sih?

Begitu pula di Monterey County ini. Ada satu museum anak. Namanya Monterey Youth Museum (MY Museum). Pertama kali saya datang ke tempat ini karena saya mendengar ada acara musik anak disana.

Begitu masuk ke dalam…eng ing eeeng!! Bayangan saya tentang museum selama ini salah besar. Tempat ini lebih tepat dikatakan sebagai indoor playground yang wahana-wahananya berupa terapan ilmu pengetahuan yang mudah dicerna anak. Disana lokasi permainan dibagi berdasarkan tema. Ada area bertema pertanian, dimana anak bisa “menanam” berbagai macam tanaman dengan tanaman dari kayu. Bahkan ada traktor yang bisa dinaiki anak-anak! Ada area lain yang bertema restoran. Anak bisa berpura-pura menjadi juru masak, kasir, pelayan, atau bahkan pelanggan. Ada juga area yang bertema rumah sakit, lapangan golf, laut, sekolah, miniatur ambulans dan mobil pemadam kebakaran, bahkan area teater lengkap dengan panggung, koleksi kostum, ruang rias, dan konter penjual popcorn!

Jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin itu rasanya. Oke, ini memang agak lebay.

Ah, tapi sejak itu, saya memutuskan untuk menjadi member di museum ini. Buat saya ini investasi yang sangat-sangat menarik. Bayangkan, hanya berbekal $125, saya dan keluarga bisa masuk kesana tanpa batas, dan berpartisipasi di SEMUA kelas yang diadakan oleh MY Museum. Oh, saya belum cerita tentang kelas-kelas anak disana ya?

Hm…MY Museum ini setiap hari Selasa punya kelas prakarya. Anak bisa membuat prakarya sesuai tema hari itu dan hasil karyanya bisa dibawa pulang. Sejauh ini Piyo sudah pernah membuat gasing, mainan roket, kartu-kartu sesuai tema musim, beruang kayu, dan buaaanyak lagi.

Setiap Rabu ada kelas Kinderjam, hmmm…istilah kecenya sih senam balita😀, untuk anak 1-5 tahun. Anak-anak diajak bergerak, belajar huruf dan angka, menari mengikuti irama musik, dan…bergerak. Pokoknya bergerak. Hahaha.

Kamis, ada acara musik. Kembali lagi karena target pesertanya adalah balita, di kelas ini anak juga diajak bergerak. Bermain dengan parasut, membuat rhythm dengan stik kayu, dan menari mengikuti irama dengan egg shaker  atau…apa ya bahasa Indonesianya, kecrekan yang bentuknya telur itu loh hehehe. Kegiatan satu ini jadi favorit Piyo sebelum dia mulai sekolah yang kebetulan jadwalnya juga hari Kamis. Tapi setiap kali libur sekolah Piyo tetap datang kesana.

Jumat ada kelas Weird Science dan Lego. Anak diajak bereksperimen dengan benda-benda yang ada di sekitar mereka. Di kelas Lego, mereka bebas berkreasi membuat apa saja dengan materi Lego Duplo dan Duplo Education yang disediakan.

Nah, jadi bayangkan betapa sibuknya Piyo si baby cat sepanjang minggu dengan sekian banyak aktivitas disana😀

Saya katakan investasi terbaik, bukan hanya karena urusan harga. Bukan. Tapi stimulus yang diterima anak saya dan pengaruhnya terhadap perkembangannya, baik dari segi motorik, bahasa, logika, dan kemampuan bersosialisasi. It’s like this place offers the whole package.

Di tempat ini pula saya kenal dengan banyak mommy friend lain yang memiliki visi sama mengenai tumbuh kembang anak. Ah, seandainya di Indonesia ada tempat-tempat seperti ini di seluruh penjuru negeri, betapa berkembangnya anak-anak Indonesia…. Tempat anak beraktivitas cerdas yang dapat dinikmati semua kalangan.

Mari berharap suatu hari harapan ini terwujud di tanah air tercinta🙂 Amin.

——–

Situs resmi MY Museum: http://www.mymuseum.org

Hari yang indah

image

Ada hari-hari yang Tuhan ciptakan hanya untuk kita nikmati
Menghirup udara segar
Mengagumi ciptaanNya
Bermain dengan titipanNya
Merasa ringan, riang
Hanya mengalir tanpa durja
Tak ada penat, hanya senyum dan tawa
Hari ini salah satunya🙂