Makna, bukan harga, Mommy…

Suatu hari saya berjanji pada Piyo untuk membelikan mainan masak-masakan. Maka pergilah kami ke sebuah toko mainan di kawasan BSD dekat rumah neneknya. Sesampainya di sana, saya berusaha mengarahkan pilihannya pada mainan-mainan keren yang harganya tentu tidak begitu murah. Namun coba tebak apa yang hari itu kami bawa pulang? Satu set mainan masak-masakan seharga tak sampai sepuluh ribu rupiah yang diobral di teras toko mainan dan sukses membuat Piyo tertawa lebar. Mainan set dapur keren yang saya harap dia pilih ternyata tak menarik hati si balita.

Sepulangnya kami dari sana, saya merenung. Ah, betapa memalukannya saya! Hari itu saya belajar bahwa merk dan harga tidak menentukan makna sebuah benda. Balita saya mengajarkan itu pada saya, bahwa kebahagiaan tidak diukur dari harga. Betapa sesungguhnya kita, orangtua, yang membentuk pola pikir anak bahwa barang merk A, B, C adalah barang yang lebih baik. Barang yang mahal adalah yang lebih keren.

“Ayo pakai sepatu Nike-mu, Nak!”
“Mana mobil-mobilan Little Tikes-mu?”
“Oh bagusnya Lego yang kau susun!”

Kita sodori anak-anak kita yang polos dengan gambaran orang dewasa akan nilai, gengsi, dan harga. Padahal di mata anak-anak, benda-benda itu hanyalah sepatu, mainan, dan balok susun.

Hmm…memang, seringkali pelajaran berharga bisa kita dapat dari sumber yang tak terduga. Terima kasih, Piyo🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: