ASI untuk Piyo

Meng-ASI eksklusif alias menyusui itu ternyata butuh komitmen! Yup betul, komitmen. Apalagi untuk emak bekerja macam saya ini.

Hmm..saya orang yang lebih suka mendengar success story daripada memenuhi benak dengan pikiran negatif dan kegagalan. Jadi mari saya ceritakan keberhasilan saya di dunia perASIan sampai saat ini (yang sebenarnya masih seumur jagung), saat Piyo memasuki usia 4 bulan 1 minggu.

Kembali lagi ke komitmen, dan buat saya, rasa takut. Lagi-lagi saya bilang, saya orang yang parno alias paranoid banget. Takut nggak bisa ini, takut nggak bisa itu. Jadi ya jalan satu-satunya buat saya adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kalau waktu hamil saya takut melahirkan, nah, setelah melahirkan saya takut nggak sukses memberi ASI untuk Piyo. Jadilah sejak hamil saya belajar, belajar, dan sampe eneg; belajar. Dengan tetap menyeret-nyeret suami untuk belajar bersama tentunya.

Memang benar, yang namanya belajar memang nggak ada ruginya. Setelah mencari info kesana kemari, saya dan suami sepakat untuk memilih RS super pro ASI sebagai langkah pertama sukses menyusui, yang berarti saya akan melahirkan di RS Carolus Salemba. Benar saja, tenaga kesehatan di sana nggak pernah tuh sekalipun bilang ASI saya sedikit atau nggak keluar. Waktu proses persalinan mereka cuma berkali-kali nanya dan mengecek apa ASI saya sudah keluar atau BELUM. Saat itu belum. Namun ternyata begitu Piyo lahir, proses IMD berjalan lancar bahkan dilakukan sampai hampir 3 jam dan ASI saya keluar. Cihuuyy!! Berarti step one, checked!

Ketakutan saya selanjutnya adalah bagaimana saya tetap bisa memberi Piyo ASI eksklusif di saat nanti saya sudah kembali bekerja. Nah, beruntungnya saya berada dalam komunitas pro ASI. Teman-teman dan keluarga sangat suportif. Teman-teman saya tak hentinya berbagi pengalaman dan mengingatkan saya untuk sesegera mungkin menyimpan stok ASI Perah (ASIP) untuk bekal ketika saya sudah bekerja nanti, biar nggak rempong sama stok kejar tayang. Jadilah sejak Piyo berusia 5 hari, saya sudah mulai memerah ASI hehehe… Namun jangan dibayangkan itu hasil perahan sudah dapat berbotol-botol ya. Di bulan pertama saya memerah ASI, setiap keli perah (waktu itu masih saya wajibkan perah sekali sehari) paling cuma ehm, istilahnya basahin pantat botol aja hahaha.

Satu yang saya yakini, supply ASI akan menyesuaikan kebutuhan, atau bisa juga disebut supply by demand. Jadi nggak ada istilahnya anak akan kekurangan ASI, karena produksi ASI akan mengikuti sebanyak apa ASI itu dikeluarkan. Niat saya untuk memerah ASI sejak awal banget juga akhirnya berbuah manis. Perlahan namun pasti, dari yang tadinya sekali perah nggak nyampe 20 ml, di bulan keempat ini saya sudah bisa mendapatkan rata-rata 200 ml sekali perah dan waktu saya sudah harus meninggalkan Piyo untuk kembali ke kantor di usia Piyo tepat 3 bulan, stok ASIP sudah mencapai lebih dari 100 botol (saya udah berhenti menghitung setelah mencapai angka 100) yang isinya bervariasi antara 80-140 ml setiap botol. Bahkan suami sampai harus membeli freezer khusus ASIP saking banyaknya botol ASIP Piyo yang semena-mena menghabiskan jatah freezer es krim bapaknya haha. Sweet, isn’t it?🙂

Langkah selanjutnya yang saya lakukan untuk menjaga pasokan ASI di kantor yaitu membuat jadwal perah tiga kali sehari selama jam kerja. Jam 7 pagi begitu sampai kantor, jam 11.30 sebelum makan siang, dan jam 15.00 sebelum persiapan pulang. Oh ya, akhirnya setelah ngantor saya pake breast pump juga setelah selama tiga bulan lebih sukses memerah ASI dengan tangan. Iya, stok ratusan botol itu saya dapatkan dengan teknik Marmet alias perah pake tangan!😀 Namun karena sejak bekerja frekuensi perah menjadi 5 kali sehari dan 3 kalinya saya lakukan di kantor, pegelnya semakin nggak nahan hahaha. Dua minggu pertama di kantor saya masih memerah dengan tangan, namun hasilnya, selesai perah baju basah kuyup keringetan hehe. Maka saya beli juga breast pump elektrik (saya beli merk Avent dengan alasan nggak mau pake pompa sejuta umat kayak Medela :D). Hasil perah dengan breast pump ini agak sedikit lebih banyak dibanding kalau perah tangan karena saya ini orang mindset banget, alias segala sesuatu itu tergantung yang saya pikirkan. Maksudnya, selama perah pake tangan, saya selalu memerah langsung ke botol kaca UC1000 yang kapasitas penuhnya sekitar 120-130 ml. Nah jadi begitu botolnya penuh, kepala saya langsung bilang “udah cukup tuh, botolnya udah penuh”, dan aliran ASI pun sukses berhenti. Ketika saya coba pakai botol kecil ukuran 60 ml, aliran pun berhenti di angka 60 ml itu saja hahaha. Dasar kepala yang aneh😀 Jadi akhirnya sekarang saya punya trik jitu untuk mendapatkan aliran ASIP melimpah, yakni memasangkan botol ukuran 260 ml ke breast pump saya, dan sukses!! Botolnya penuh juga tuh sekali pompa😀😀

Selesai dengan success story, sekarang saya akan ceritakan tantangan yang saya hadapi, karena nggak mungkin banget kalau urusan perASIan ini lancar terus tanpa kendala. Pertama, puting lecet😦 Ini karena Piyo seringkali minum cuma asal-asalan aja dan bahkan kadang-kadang cuma ngempeng. Jadi kan sering ketarik-tarik dan dikemut dan digigit semena-mena sama dia. Kalo udah gini, apalagi kalau lecet kanan kiri, saya cuma bisa huhuhu nahan sakit aja. Yah namanya juga demi Piyo, sakit kayak gimana juga ditahan-tahan deh. Kendala selanjutnya, urusan meng-ASIP di kantor. Ruangan saya nggak punya kulkas! Menyadari hal ini, saya tadinya mau beli kulkas kecil untuk di bawah meja, tapi suatu hari mas suami bawa hadiah manis banget: portable fridge. HAHAHA. Problem solved😀 Saya juga jadi ngirit karena nggak perlu beli cooler bag lagi untuk menjaga ASIP tetap dingin selama perjalanan pulang kantor, lah kan kulkasnya bisa digotong-gotong😀 Lanjut, kendala ketiga muncul terkait tipe menyusu Piyo yang hebohnya setengah mati. Nggak bisa tuh menyusu damai tentram kayak bayi-bayi lain di ruang menyusui. Tangannya nggak bisa diem, kaki suka nendang-nendang, bahkan kalau menyusu di ruangan warna-warni yang menarik, dia sebentar-sebentar ngeliatin gambar-gambar di dinding. Piyo juga susah banget diajak menyusu dengan gaya bobok bayi yang normal, maksudnya, kepalanya ada di lengan saya, ya kayak posisi menyusui standar gitu deh. Haduh. Ya jadi akhirnya urusan posisi ini saya akali juga dengan posisi duduk, maksudnya si Piyo yang duduk menghadap saya😀 Untungnya Piyo udah kuat (FYI dia udah bisa berguling tengkurep di usia 9 hari dan mengangkat tegak kepala di posisi tengkurep sebelum usia 2 minggu). Fyuh…

Sejauh ini sih baru itu kayaknya kencala menyusui yang saya alami. Tapi saya sadar, sadar banget, kalau urusan menyusui ini baru 4 bulan saya jalani dan pasti masih buaaanyaak lagi tantangan yang akan saya hadapi ke depannya. Lagi-lagi saya…takut. Hehe. Dan kalau saya takut? Saya belajar…🙂

Ah…sekian dulu deh, posting ini dibuat di tengah jam kerja. Kalau ngeblog terus nanti dianggap makan gaji buta😀 Doakan saya urusan menyusui ini lancar jaya sampai Piyo umur 2 tahun ya! Hihi…ya namanya juga niat…😀

Ciao!

-NaY-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: