Tentang menikah dan membangun keluarga

Menikah itu tidak berhenti pada acara resepsi satu hari. Hari pernikahan adalah starting point, bukan finish line sepenggal kisah cinta. Menikah itu gampang? Memang. Menikah itu sulit? Juga memang. Semua tergantung niat. Menikah itu gampang selama ada niat untuk menyempurnakan agama, sesimpel itu. Menikah itu sulit ketika untuk menikah sebuah keluarga memaksakan diri untuk menggelar pesta pernikahan besar-besaran untuk menjunjung tinggi status sosial. Sulit ketika seorang wanita mensyaratkan sejuta hal untuk si calon suami, biasanya sih ada standar “kemapanan” tertentu. Jadi yang sulit? Ya…maintaining gengsi itu. Menikah itu mahal di gengsi. Serius deh.

Buat saya, menikah itu ya gampang-gampang susah gitu deh. Ternyata gampang ketika semua niatan saya kembalikan pada Sang Pencipta, berserah bahwa segala yang terjadi dan akan terjadi pada saya adalah sudah menjadi ketetapanNya, pun dengan keputusan untuk menikah dan keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hambaNya sendirian ketika datang suatu masalah. Setelah keyakinan itu saya dapatkan (melalui proses yang panjang tentunya), rasanya menikah plong-plong aja tuh. Tantangan buat saya dalam langkah menuju pernikahan adalah ketika saya harus belajar melepaskan diri dari kotak nyaman saya, dimana saya selalu merasa bisa mengandalkan orangtua untuk setiap masalah yang saya hadapi. Katakan saja dari mulai mengurus KTP sampai ketika gaji selalu kurang untuk membiayai gaya hidup, saya selalu bisa kembali pada orangtua.

Beruntungnya saya mengenal (waktu itu) calon suami yang setengah memaksa saya untuk beranjak dewasa dan keluar dari kotak kenyamanan itu.  Setengah mati memang pada awalnya, saya harus merasa cukup dengan penghasilan saya sendiri dan berhenti meminta pada orangtua. Namun ternyata di situlah ujian kedewasaan. Dewasa berarti membuat keputusan rasional. Begitu pula ketika serius memantapkan langkah untuk menikah, kami berdua sudah berkomitmen untuk menyiapkan bukan hanya kehidupan kami berdua namun juga untuk anak kami nanti. Kami sudah memikirkan bagaimana berjuang berdua mencicil rumah, menyisihkan untuk kebutuhan pribadi, menyiapkan tabungan anak, sampai apa yang harus kami lakukan ketika kami berselisih paham. Pengalaman kami masing-masing di masa lalu mengajarkan kami berdua untuk tidak hanya mempersiapkan diri untuk hari-hari senang, namun yang lebih penting adalah mempersiapkan untuk hari-hari gelap dan mendung🙂

Satu hal lagi yang seringkali saya lihat dan sesali setiap kali melihat ke sekitar adalah masih banyak wanita yang berpikir bahwa tanggung jawab menghidupi dan menjaga keutuhan sebuah keluarga adalah sepenuhnya tanggung jawab suami. Masih banyak wanita yang berada di sekitar saya menganggap bahwa suami mereka HARUS bisa memenuhi segala kebutuhan mereka dan keluarganya entah bagaimanapun caranya. Padahal tidak sedikit dari wanita-wanita itu yang punya pekerjaan di luar rumah dan sebenarnya memiliki penghasilan selain apa yang suami mereka berikan. Untuk saya hal seperti itu sangat tidak rasional. Keluarga dibangun atas dasar kesepakatan, sejak memutuskan untuk menikah sampai memiliki anak; dan merupakan tanggung jawab kedua belah pihak untuk memelihara itu semua. Sungguh saya tidak habis pikir dengan wanita-wanita yang masih hidup dengan prinsip “uangku ya uangku, tapi uangmu pasti uangku juga“. Tabungan pendidikan anak misalnya, kalau memang sang istri bekerja maka sudah selayaknya ia ikut menyumbang sebagai pengganti ketidakhadirannya menjadi seorang caretaker rumah tangga. Begitu pula dengan kebutuhan sehari-hari. Kalau memang gaji suami yang sanggup diberikan kepada istrinya hanya sejumlah “x”, maka sang istri seharusnya sebisa mungkin mengelola jumlah “x’ itu untuk mengelola rumah tangga, dan apabila memang kurang mencukupi, maka tidak ada salahnya ia ikut berusaha mencari penghasilan tambahan untuk keluarganya, bukannya memaksa dan menekan suami dengan segala daya upaya untuk mampu memberikan “xy”.  Percaya deh, masalah rezeki itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Jadi? Menikahlah, karena Allah🙂 bukan karena status sosial; dan berkomitmenlah kepada keluargamu, bukan kepada status sosialmu🙂

Cheers!

NB: Thanks untuk the most amazing husband yang sudah mengajarkan saya tentang hidup dan perjuangan. Terima kasih untuk soon-to-come Baby Peanut kita. Terima kasih untuk semuanya :*

2 Responses to “Tentang menikah dan membangun keluarga”

  1. wina Says:

    iiiih laik dis..😀 sama jan, gw juga berprinsip “uangmu+uangku=uang kita”.. hehe.. just like my parents did

  2. sheepearl Says:

    Ahhhh senangnya ada yg setuju *kecups Hakan* *bukan bundanya*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: