Ironi kehidupan

Saat sekelompok orang membuang uang ratusan juta untuk sebuah acara sehari, bapak itu mencoba mengais rezeki. Beralas sebuah koran lusuh, bermodalkan beberapa mainan yang harganya tak seberapa.

Ketika kubeli dagangannya, ia menerawang uang yang kuberikan. Bapak itu berucap, “Ini uang berapa dek, bapak nggak bisa lihat. kembaliannya berapa?” seraya menyodorkan beberapa lembar uang lusuh, menyuruhku menghitung sendiri berapa uang kembalian yang seharusnya ia berikan kepadaku. Ah, ternyata ia bahkan sudah sulit melihat.

Ya, ini ibukota. Tak sampai satu kilometer dari Patung Pemuda! Di dalam sebuah kompleks olahraga kebanggaan bangsa ini. Tapi ini kehidupan.

Memang, man jadda wa jada. Siapa yang berupaya sungguh-sungguh, ia yang akan berhasil. Tapi apakah kau lihat bapak itu tidak berupaya dengan sungguh-sungguh?

 

-NaY-

4 Responses to “Ironi kehidupan”

  1. alids Says:

    hmmfff.. what a life..
    cuma baca ceritanya aja mataku udah kaca kaca.. apalagi kalo liat langsung.. aku bisa brebes milišŸ˜¦
    smoga apapun kondisi dirinya, semoga bapak tadi diberi kebahagiaan.. smua letih lelah dan susah payah akan tak terasa jika ia bahagia.. yap.. smoga ia bahagia..

  2. putra Says:

    sedikit koreksi ya mbak, tulisanya ” man jadda wajada”, huruf wa nya tidak dipisah..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: