Don’t take religion too seriously

Jakarta, 19 Juli 2011

“Don’t take religion too seriously. (Dr. Franz Magnis Suseno on his today’s lecture in INA-Germany Intl Summer School)”. Itu adalah tweet seorang kawan beberapa saat yang lalu. Sedikit menggelitik hati, namun sangat menguras pemikiran.

Pertama: Apa yang mendasari doktor tersebut mengeluarkan statemen itu? Kedua: Kalau bukan agama lantas apa yang menjadi panduan manusia dalam menjalankan hidup?

Kita mulai dari yang kedua. Saya dan pacar saya, walaupun sudah lama bersama tapi terdapat perbedaan dalam menghadapi sesuatu, misalnya dalam hal memanfaatkan barang. Pacar saya setelah membeli barang, barang tersebut langsung dicoba untuk digunakan. Sementara itu, saya berusaha membaca buku panduannya sambil mengutak utik kemampuan barang tersebut. Contoh konkrit, disaat kita memiliki telepon genggam baru, dia sibuk mengutak ngutik berbagai fitur yang ada, sementara saya membaca buku panduannya sambil sesekali mencoba mengaplikasikannya pada telepon genggam tersebut.

Hasilnya, beberapa kali dia merasa kesal karena dia merasa handphone tersebut tidak bersahabat dengannya, sementara saya merasa sangat terbantu dengan kinerja yang ada karena buku panduan dengan jelas menyatakan bagaimana kemampuan telepon genggam tersebut. Demikian pula dengan hidup. Saya bukan seorang yang ahli di bidang keagamaan ataupun keyakinan, namun simulasi diatas saja cukup membuat saya yakin, bahwa untuk MENGOPERASIKAN TUBUH SAYA DI DUNIA INI PASTI ADA BUKU PANDUANNYA.

Sebagaimana telepon genggam tadi, kalau saya tidak membaca buku panduannya, bagaimana cara saya untuk mengoptimalkan kinerja setiap fitur telepon genggam milik saya? Kemungkinan yang terjadi adalah saya salah dalam mengoperasikan telepon genggam milik saya itu.

Nah, demikian juga soal agama atau keyakinan, yang saya yakini adalah sebagai panduan manusia dalam menjalani hidupnya di dunia ini (apapun agama atau keyakinannya). Kita perlu mempelajari dan mendalaminya, karena sebagaimana telepon genggam tadi, bila tidak dipelajari dan didalami maka akan terjadi penyalahgunaan fungsi keberadaan kita sebagai manusia dimuka bumi ini. Pemahaman yang dangkal akan agama dan keyakinan justru akan membawa penganutnya menuju kehancuran.

Maka itu menurut hemat saya justru agama ataupun keyakinan itu perlu mendapat perhatian yang cukup bahkan lebih serius. Nah untuk menjawab hal yang pertama, mari kita tanyakan pada Doktor yang bersangkutan.

Apalah artinya saya, semoga pemikiran yang sederhana ini dapat bermanfaat dan bila ada kekurangan agar dapat dimaklumi dan dikoreksi.

One Response to “Don’t take religion too seriously”

  1. fitri Says:

    yana.. like this post deh.
    logika yg sangat logis, hidup juga ada buku panduannya. thanks utk mengingatkan dan pencerahan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: