Dua tahun yang…undescribable

Hanya ingin berbagi…

Januari 2009. Gw memutuskan untuk menyerah pada ambisi, ambisi seorang bocah 22 tahun untuk mengambil kesempatan beasiswa S2 di Jakarta. Pilihan yang sulit banget, karena pada waktu itu gw masih menempati posisi yang sangat sangat nyaman di sebuah perusahaan swasta di Bandung, dengan gaji yang jauh lebih besar dari yang gw terima sekarang. Juga menjadi pilihan yang sangat sulit, karena orang yang gw sayang pada waktu itu meminta gw untuk nggak pergi. But again, I gave it in. I gave up to selfish ways.

Juni 2009. Gw balik ke Jakarta, memulai hari-hari yang gw pikir, “keren banget!” Well, berapa banyak sih orang yang hidupnya selancar gw waktu itu? I thought I have the world in my hand. Sombong.

Sepanjang tahun 2009. Hidup gw mulai terasa berantakan. Sekolah yang gw banggakan, ternyata nggak lebih dari ambisi sekelompok orang untuk mendapat jabatan dan kekuasaan, tanpa memikirkan hidup orang lain yang hancur karena apa yang mereka lakukan. Gw mulai hilang arah, nggak tau lagi apa yang gw cari. Apa yang gw dapat waktu itu? Toh hal yang sebelumnya sangat berarti buat gw, love life selama lima tahun, juga kandas. Gw hilang, tersesat, benar-benar nggak tau apa yang gw perjuangkan. Namun di tahun itu pula gw ketemu seseorang yang membuat gw bisa bertahan untuk menyelesaikan apa yang sudah gw mulai.

Tahun 2010. Cobaan dan cobaan. Hanya bertahan karena orang itu, yang terus memberi gw semangat. Walaupun tetap saja, ternyata sekolah itu tidak jadi lebih baik. Gw mulai merasa sia-sia, mulai merasa membuang waktu gw untuk sesuatu yang sama sekali nggak berarti. Friendship? No. Betrayal? Absolutely yes. Sekolah itu, UNHAN, menjadi sebuah neraka tersendiri buat gw. Dimana sudah tidak ada lagi yang namanya teman. Semua berusaha menjadi yang paling hebat -menghalalkan segala cara. Di tempat ini gw bertemu dengan buaaaanyak orang-orang oportunis.

Harus gw katakan, dua tahun ini benar-benar mengajarkan gw banyak hal, walaupun tidak semuanya bisa gw kuasai dengan baik. Gw belajar meninggalkan ambisi, belajar menerima segala sesuatu dengan ikhlas. Tapi tidak ada yang mudah. Ikhlas? Masih jauh. Gw belum ikhlas untuk bisa menerima kenyataan bahwa ada dua tahun dalam umur gw yang terbuang sia-sia. Nah kan? Betapa tampak tidak ikhlasnya gw?😀 Gw sedang belajar untuk bisa mencari makna di balik itu, bahwa dua tahun ini tidak sia-sia.

Tetap harus ada upaya untuk membuat semuanya jadi lebih baik. Ada saat-saat dimana gw menjadi seseorang yang benar-benar brengsek, mengusir semua yang sayang sama gw untuk menjauh. Namun setidaknya sekarang gw sudah mulai bisa melangkah ke depan. Seringkali ambisi-ambisi itu datang lagi, di saat banyak tawaran (lagi) untuk melangkah lebih jauh, tawaran untuk menjadi orang hebat. Tapi gw juga harus belajar untuk berkata tidak. Belajar untuk merasa cukup. Gw punya semua yang gw butuhkan.

Semoga, semoga dua tahun ini tidak sia-sia. Semoga, gw bisa menerima semua dengan ikhlas. Semoga gw bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: