Arti Sebuah Kebersamaan

Tulisan ini adalah kutipan tulisan seorang guru SMA gw di account facebooknya, Ibu Fatri Amida, tentang kondisi guru gw yang lain, Pak Zulhiswan, yang sedang diberi cobaan oleh Allah SWT. Guru SMA, lebih tepatnya MAN, dimana gw pernah menghabiskan waktu tiga tahun yang nggak akan pernah terlupakan. Satu keluarga besar yang memiliki ikatan sangat kuat. Ini bukan infotainment, bukan juga bagian dari ledakan-ledakan emosi yang sering tercatat di blog ini. Ini hanya sebuah percikan kisah kecil tentang arti sebuah kebersamaan…

Tanggal 26 April pagi, kami para guru MAN insan cendekia megadakan rapat untuk kelulusan siswa yang harus diumumkan hari ini… kami penasaran dengan hasil UN.

Rapat dipimpin oleh kepala sekolah…kami menunggu dengan segala rasa… Rapat dibuka… tetapi tidak dengan membacakan hasil.. dengan rasa haru yang teramat dalam… kepala sekolah meinta kami guru untuk membaca alfatihah…

Kami bertanya-tanya dalam hati dan menerka-nerka sendiri… ada apa dan siapa?… dengan teramat berat kepala sekolah dengan suara tersendat menyampaikan. … dan meinta izinkan kepada teman kami untuk berkenan informasi itu disampaikan. ..

Bagai petir disiang bolong kami tersentak… disampaikan bahwa teman kami ada tumor di otak…dengan dipimpin kepala sekolah kami membaca alfatihah… bacaan pertama kami masih bisa mengendalikan diri… bacaan kedua… mulai terdengar suara isak tertahan… sebagian mulai menghaspus air mata… bacaan ketika bunyian itu semakin jelas…yah…semuanya kami kaget… air mata tak terbendung…muncul pikiran macam-macam dikepala masing-masing. .. suasana menjadi haru… rapat tetap dijalankan..

Didalam perasaan gundah Alhamdulillah 100% siswa Insan Cendekia lulus…

Ya… Allah… hati ini tidak bisa ku ajak kompromi rasa haru menguasai hatiku.. aku tidak bisa mengendalikan diri.. Ternyata aku begitu lemah untuk mendengar berita tentang sahabat, teman dan kakakku itu… aku tidak bisa menahan diri… setalah membaca alfathihah aku lari keluar ruangan aku tidak kuat menahan rasa sedih itu…

Setelah semua selesai rapat dan aku sudah mulai kuat… aku mendatangi sahabatku dan bertanya apa sebenarnya terjadi…

Subhanallah dengan tenangnya dia memberi kekuatan padaku…

Tenang saja… tidak akan terjadi apa-apa kok…

Dia menceritakan apa yang terjadi dengan tenang..

Jadi tenang saja ya… tidak apa…aku bingung..bukan aku yang memberi ketenangan malahan aku yang ditenangkan…

Kemudian aku menanyakan blh nggak kalau ada siswa yang meminta surat keterangan kelulusan sementara? beliau jawab boleh.. kira-kira bunyi seperti apa…

Ya Allah… betapa kagetnya aku… baru aku percaya kalau cerita beliau benar… untuk menuliskan kata sekolah saja… beliau butuh waktu beberapa menit.. dengan mengeja… tapi yang ditulis belum selesai juga… hanya untuk kata ” sekolah”… Sebegitu besar efeknya…. bagaimana hatiku tidak semakin nggak karuan..

Ya Allah.. berilah kesembuhan untuk beliau…

Dia teman yang baik…

Dia sahabat yang baik..

Dia kakak yang baik…

Mudahkanlah jalan untuk menuju kesembuhannya. ..

Jadikanlah doa siswa-siswinya sebagai obat dalam penyembuhan. ..

Jadikanlah rasa cinta siswa siswinya sebagai kekuatan dan motivasi untuk mencapai kesembuhan..

Jadikan rasa sayang siswa siswinya sebagai mukzijat untuk kesembuhannya. ..

Aku tau… betapa siswa siswinya menyangi dan mencintai beliau…

Semoga semua siswi dan siswinya mengirimkan doa dengan tulus dan ikhlas…

Jadikalah kasih sayangnya kepada orang-orang disekitarnya sebagai obat…

Sahabat…

yang sabar dan ikhlas ya……… …………………. …

Doa kami Insya Allah selalu menyertai mu…

Gw cuma bisa menanggapi, “Amin…semoga Allah SWT memudahkan jalan Pak Zul menuju kesembuhan.” Pak Zul nggak punya anak. Seriap ditanya, beliau selalu menjawab, “Punya kok, kalian kan anak-anak Bapak…” Tetap semangat dan jangan pernah menyerah! Yang jelas, semua yang terjadi di sekeliling gw membuka mata gw, untuk juga harus bisa menghadapi setiap cobaan dengan ikhlas, seperti Pak Zul. InsyaAllah :)

Class…mates!

Just a quickie from me. This is why I really love my classmates. Crazeeeaaaahhhh :D :D

-NaY-

Teman tanpa tanda kutip

Kemaren gw ketemuan sama sobat lama gw. My partner in crime :) All of sudden, tiba-tiba dia sms gw dan bilang kalo dia lagi ada masalah. The thing about this person is, dia nggak akan bilang dia punya masalah kalau apapun yang dia hadapi saat itu bukanlah sebuah huge problem. Kebetulan banget saat itu gw lagi berada nggak jauh dan spontaneously memutuskan untuk ketemuan.

Dia cerita, bahwa dia sedang terlibat sebuah kontrak bisnis bermasalah dan ada seorang temennya yang menawarkan bantuan burupa asistensi secara hukum. Sebut aja si temen yang menawarkan bantuan ini bernama “L”. Si L ini dengan segala trik-trik manisnya berhasil membuat sobat gw percaya bahwa dia bener-bener bisa bantu, dan kontrak penunjukan kuasa hukum untuk L dibuat seadanya saja. Kalau dalih L sih karena mereka kan “temen”, jadinya kontrak itu cuma formalitas aja. And there goes the contract.

It then turns out that proses sobat gw dengan kliennya tetap tidak berjalan mulus. Kontrak nggak selesai, dan si kuasa hukum, si L, nggak jadi kerja. Tapi entah apa ini yang namanya temen, sobat gw tetap di-charge sejumlah besar uang sebagaimana tertulis di kontrak “formalitas” yang dulu dia dan L buat. L nggak mau tau pokoknya uang itu harus segera dibayarkan walaupun dia mengakui bahwa kerjaannya juga nggak selesai. Alasannya, “Kita kan temen, dan di kontrak kan udah ada besar bayaran gue…” Hahaha…hubungan pertemanan yang aneh.

Waktu gw tanya kok bisa-bisanya dia percaya sama si L itu, sobat gw cuma bilang, “Yah, gw kira dunia itu sepolos dunia kita, Nay”. Okay, baiklah. I myself juga seringkali berpikir seperti itu. Bahwa the world is a super-friendly place to live. Seseorang yang deket sama gw sering banget marah ke gw untuk alasan ini. Dia selalu bilang, “Nggak semua orang sebaik bayangan kamu”. Sama seperti sobat gw itu, gw percaya kalau kita tulus baik sama orang lain, orang lain juga akan melakukan hal yang sama. But ting tong! Nggak selalu seperti itu :) Dunia ternyata kejam.

Kalau gw inget-inget lagi, looking back kepada hal-hal yang pernah gw alami, memang nggak selalu teman adalah teman yang baik. Gw pernah berteman dekat sama seseorang yang pada akhirnya ketahuan bahwa tujuan dia berteman dengan gw adalah untuk minjem uang. Walah walah. So it was my money he needed, not me. Atau seorang temen yang selalu ada, pas ada kepentingan yang sama. Kalau kepentingannya udah beda, entah kemana perginya haha. Si “temen” yang satu ini pernah bilang ke gw, “A friend in need is a friend indeed”. Sekarang gw baru paham. Jadi maksudnya temenan kalo ada need-nya aja (haha ini pemaknaan lain setelah berbagai hal yang terjadi, dan gw tidak lagi mengartikannya dengan polos ^wink^).

Hmm…jadi inget tulisan Samuel Mulya, columnist Kompas, beberapa minggu yang lalu. I love his writings. Waktu itu dia nulis tentang ANJING, yang loyalitasnya lebih bisa diandalkan daripada manusia. Jadi jangan marah kalo ada yang bilang, “Anjing lo!”, karena sebenarnya itu bisa diartikan sebagai sebuah pujian bahwa lo punya loyalitas. Hahaha…very very nice idea indeed.

Akhirnya gw harus berpikir ulang, bagaimana caranya untuk tau apakah seseorang yang berada deket kita adalah seorang teman atau “teman”. Teman yang pake tanda kutip ini maksudnya teman-teman yang ajaib, orang-orang oportunis yang kerjaannya cuma mencari keuntungan. Mungkin yang yang bisa kita lakukan cuma tindakan preventif aja, jangan terlalu mudah percaya sama orang lain, semanis apapun ucapannya atau semanis apapun mukanya :D Semoga kita semua memiliki teman tanpa tanda kutip yang selalu ada, tidak peduli kita sedang berada di sisi roda kehidupan yang manapun, atas ataupun bawah.

Kayak lagunya Nidji, roda memang telah berputaaaar……

-NaY-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.