Guess what?

Foreign Research Permit in Indonesia: If I were a foreign researcher and planning to conduct my research in Indonesia…

I would think twice. LOL.

Okay I was joking. However, from an objective point of view, I should say it is not easy for somebody who plan to do so. There is a complicated procedure (and bureaucracy) coming with the process. So here is a few tips for you:

1) Apply online! It is so much faster and easier since you won’t have to deal with the *you know how* bureaucracy. Indonesian government has launched a new system for foreign researcher to apply online in The Ministry of Research and Technology’s website (the agency responsible for issuing foreign research permit in Indonesia). You can access it in www.frp.ristek.go.id. Just fill the form, upload all necessary files, and done. Make sure you do it once, I mean, apply online when you already have all the documents. By applying online, you could save more papers! Save our mother earth! LOL.

2) Again, upload everything at once.

3) Make sure your counterpart letter is signed by at least Dean of Faculty OR Director of research center, in form of formal letter (with letterhead), and addressed to the Ministry of Research and Technology . There are some particular tips for this point. First, you would BETTER have local counterpart from a government institution (could be state universities or government research center) or well-known private universities. NGO’s and private institutions are not good. Believe me, NOT GOOD. Second, make sure the counterpart’s specialty and skill are in line with your field of research; and it is even better if the  counterpart is based in the same city or province where you would conduct the research. The letter should contain the information about you (your name), your project, project duration, project location, and the name of local researcher who will accompany you in the field.

4) Send one copy of your complete document to nearest Indonesian Embassy, and do this in parallel with the online application process.

5) Do not just write a one-page proposal. Oh please, be realistic. Abstract is one page, but proposal? You tell.

6) Use your creativity, make sure to have photograph with red background. Use your red blanket, red papers, red crayons, photoshop if you can. Just make the background RED. Not pink, RED.

7) Copy of passport means the passport page which contains your personal information and photo. No need to scan all pages and send them to the Secretariat. It’s just a waste (of your time and energy). And…passport should be valid at least 6 (six) months from the date of your final departure from Indonesia (when you finish the research) or 18 (eighteen) months since your application is approved at the first time. So, if your passport validity is less than that, RENEW! Renew before applying.

8) If you plan to bring family, make sure you prepare the scanned copy of your marriage/partnership certificate, birth certificate, and the scanned copy of your family’s passport.

9) Do not even think to conduct your research in some *considered* sensitive areas in Indonesia (read: Aceh, Papua, Maluku).

10) Do not write Aceh or conflict related to Aceh in your proposal.

11) For political scientist…avoid the word “politics”, “national policy”, and other sensitive phrases. Or if you really had to, explain as detailed as possible that you would NOT analyze *and mess up* Indonesian national policy in any way.

12) Submit your application at least 2 (two) months before your schedule to enter Indonesia.

13) If you are going to do a long project (that could take more that a year), mention it in the “research duration” box.

14) Check your email and your account at the online application system as often as possible because they only use this channel to communicate with you.

15) The last one, before applying for foreign research permit, read the procedure carefully. You can access it in www.ristek.go.id in the left side (Foreign Research Permit section)

So, good luck! ^-^

Cheers,

-NaY-

Ironi kehidupan

Saat sekelompok orang membuang uang ratusan juta untuk sebuah acara sehari, bapak itu mencoba mengais rezeki. Beralas sebuah koran lusuh, bermodalkan beberapa mainan yang harganya tak seberapa.

Ketika kubeli dagangannya, ia menerawang uang yang kuberikan. Bapak itu berucap, “Ini uang berapa dek, bapak nggak bisa lihat. kembaliannya berapa?” seraya menyodorkan beberapa lembar uang lusuh, menyuruhku menghitung sendiri berapa uang kembalian yang seharusnya ia berikan kepadaku. Ah, ternyata ia bahkan sudah sulit melihat.

Ya, ini ibukota. Tak sampai satu kilometer dari Patung Pemuda! Di dalam sebuah kompleks olahraga kebanggaan bangsa ini. Tapi ini kehidupan.

Memang, man jadda wa jada. Siapa yang berupaya sungguh-sungguh, ia yang akan berhasil. Tapi apakah kau lihat bapak itu tidak berupaya dengan sungguh-sungguh?

 

-NaY-

Cerita seorang Mbak Y

Sering gw berpikir kalo hidup gw itu kok kayaknya susaaaah banget ya. Ada aja masalah, ada aja beban yang rasanya ga selesai-selesai. Dan satu hal, jemuran tetangga kok rasanya selalu lebih kinclong sih? :D Tapi, itu dulu… (ah yeah I know it sounds so lebay). But seriously, gw dapet pelajaran berarti banget tentang bagaimana IKHLAS menghadapi apapun yang telah TUHAN tetapkan untuk kita. Memang nggak auto-ikhlas dalam sekejap sih, tapi proses menuju ikhlas itu memang bertahap. Gw mau cerita tentang salah satu tahapan penting bagaimana gw mulai menjalani proses mengikhlaskan segala sesuatu dalam hidup gw.

Quite some time ago, gw lagi dalam masa bosan, jenuh banget sama segalagalanya, semuamuanya. Gw jenuh sama hidup gw, sama kerjaan gw, sama rutinitas gw, sama cara gw berpikir, sama celengan di meja gw, bahkan sama lontong sayur Bang Dul! Ehm, FYI Bang Dul itu nama pemilik counter sarapan favorit gw tiap hari di kantin kantor yang harga  makanannya sangat bersahabat sekali :D Ah ya, lanjut. Gw jenuh. Gw merasa semua kurang. Gw mau lebih. Lebih segala-galanya. Lebih duit, lebih karir, lebih agama, lebih everything.

But then, di suatu hari yang ohmaigad sangat membosankan, jam setengah delapan pagi di kantor gw udah ada tamu. Gw mikir, “Eh hellooo…semangat banget sih yaaa…gw aja males…” Waktu itu gw nggak menaruh perhatian lebih sama si tamu yang kemudian gw ketahui namanya adalah “Mbak Y”. Ya sebut aja gitu. Mbak Y. Si Mbak Y ini ternyata seorang staf dari kantor lain yang ngurusin administrasi sebuah proyek penelitian asing, dan tentu saja itu urusannya sama kantor gw.

Waktu bergulir sampai jam makan siang. Mbak Y masih stand by di seberang meja gw. Eh kalo sambil duduk berarti jadi sit by-kah? Oh okay nevermind. Hm, gw mulai tertarik. Kenapa-kah harus nunggu selama itu? Apa berkasnya belom beres? Ternyata enggak. PracticallyMbak Y udah selesai urusannya sama kantor gw dan dia minta izin untuk numpang nunggu di kantor gw sampe selesai jam makan siang. Gw mikir, aneh. Bukan gw namanya kalo nggak langung interogasi orang yang gw anggap agak aneh. Kemudian terjawab. Mbak Y ini berangkat dari Jogja (iya kantornya di Jogja) pada malam hari sebelumnya naik kereta dan nyampe jam lima pagi di Stasiun Gambir, Jakarta. Kenapa harus cari yang nyampe pagi? Supaya dia nggak perlu keluarin lagi biaya untuk bayar penginapan di Jakarta. Kenapa dia masih di kantor gw sampe jam makan siang? Karena dia nggak tau dimana harus menunggu turunnya matahari Jakarta yang super terik sampai saat nya dia harus beranjak. Dari sini cerita pun bergulir…

Mbak Y ternyata seorang mantan TKI di Korea. Dia berangkat ke Korea waktu umurnya masih 21 tahun dan tinggal disana selama sembilan tahun. Berangkat ke Korea waktu itu bukan pilihan mudah, karena dia harus meninggalkan keluarga dan *ehm* cintanya. Namun apa daya, keluarganya sama sekali bukan keluarga mampu dan dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Maka berangkatlah dia ke Korea. Di Korea, untungnya dia bekerja di pabrik dengan bos yang nggak kejam, alias nggak ada masalah sama sekali untuk masalah pembayaran gaji dan sebagainya. But please note kalo status dia adalah TKI ilegal, lagi-lagi karena keterbatasan dana. Namun musibah memang datang nggak terduga. Enam tahun dia di Korea, tiba-tiba suatu hari terjadi ledakan di pabriknya akibat kecerobohan seorang operator yang nekad mengoperasikan pabrik dalam keadaan mabuk. Dua orang pegawai mengalami luka bakar sangat parah, termasuk Mbak Y. Kulit wajah dan badan hancur, literally. Kemudian untungnya si pemilik pabrik mau bertanggung jawab atas keselamatan pegawainya. Walaupun Mbak Y berstatus pekerja ilegal, pemilik pabrik bersedia mengurus semua dokumen Mbak Y sehingga menjadi pekerja legal agar perawatan pasca kecelakaan itu dapat tercover oleh asuransi dan tidak memberatkan si pekerja. Di titik itu, dengan wajah hancur Mbak Y bahkan sudah tidak berpikir untuk menikah. Pengobatan untuk memperbaiki dampak kecelakaan itu pada tubuhnya menghabiskan waktu sampai tiga tahun. Setelah sembuh (and thank God bedah plastik di Korea itu canggih banget jadi wajahnya nggak tampak terlalu parah), Mbak Y memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Sepulangnya ke Indonesia, pada umur 31 tahun, Mbak Y menyadari bahwa untuk dapat memperbaiki taraf kehidupannya, dia harus memiliki sertifikat legal yang membuktikan kemampuannya dalam berbahasa Korea. Maka dia memutuskan untuk KULIAH. Ah dan wow, dia berhasil masuk ke jurusan bahasa (atau sastra ya?) Korea di sebuah universitas negeri terbaik di Indonesia yang terletak di Jogja. Jatuh bangun, pasti. Tapi dia tetap semangat. Biaya dikumpulkan sedikit demi sedikit sambil menjadi penerjemah untuk siapapun yang butuh penerjemah bahasa Korea.

Saat dia memutuskan untuk kuliah, tak disangka dia juga ketemu mantan pacarnya dulu yang ternyata baru beberapa bulan ditinggal mati istrinya. Si pria, sebut saja Mas W, sudah memiliki satu anak. Namun ternyata cintanya pada Mbak Y tak pernah padam (oke, bahasanya jijik :D ). Mas W bersedia menerima Mbak Y dengan segala kondisinya kini dan begitupun Mbak Y, yang mau menerima Mas Y yang statusnya sudah duda beranak satu. Namun memang Mbak Y sayaaang banget sama anak Mas W. Dia bahkan berjuang agar anak Mas W bisa tinggal dengannya (sebelumnya dirawat oleh keluarga almarhum istri Mas W), karena katanya dia melihat anak itu nggak terurus. Dia ikhlas menjadikan anak itu anaknya sendiri yang dia rawat dengan penuh kasih sayang.

Suami Mbak Y, alias Mas W, saat itu bekerja sebagai buruh pabrik di Semarang yang penghasilannya sangat kecil. Akhirnya Mbak Y meminta suaminya untuk tinggal di Jogja agar dapat berkumpul hidup sebagai keluarga dan mengikhlaskan bahwa Mbak Y saja yang bekerja, Mas W diminta untuk merawat anaknya di rumah agar si anak tetap dapat kasih sayang orangtuanya.

Empat tahun berlalu, Mbak Y udah di ujung masa kuliahnya. Sidang sudah beres, tinggal revisi skripsi saja yang belum. Namun lagi-lagi siapa yang bisa menebak datangnya musibah. Ayah Mbak Y meninggal, dan dosen pembimbingnya di kampus berjanji akan memberi kelonggaran administratif agar Mbak Y dapat mengurus keluarganya dulu. Maka pulanglah Mbak Y ke kampung halamannya, bersusah payah dengan kondisi keuangan yang semakin sulit dan mengurusi semua urusan pemakaman ayahnya. Sekembalinya dari kampung halaman, ketika dia kembali ke kampus untuk melanjutkan urusan akademik, ternyata batas waktu pengumpulan hasil revisi skripsi sudah lewat dan sang dosen pembimbing yang berjanji membantu memberi kelonggaran administratif itu pun sudah terlanjur berangkat ke Korea untuk menempuh pendidikan doktoral. Naas. Dosen lain tidak ada yang peduli dengan nasib Mbak Y yang setengah mati menuntaskan kuliahnya dengan keterbatasan biaya. Tidak ada toleransi, peraturan universitas menyatakan dia harus mengulang sidang skripsi itu di semester depan, yang berarti dia juga harus membayar biaya semester dan sidang lagi. Tapi tetap, Mbak Ynggakprotes. Kenapa? Karena…dia dengan polosnya bilang, kalau dia protes ke Dekanat dan ada yang membelanya, kasihan beberapa dosen yang tidak memberi toleransi itu nanti kena masalah di masa depan. Oke sodara, jadi intinya dia nggak tega sama dosen-dosen yang ngotot mendzaliminya.

Mbak Y udah nggak sanggup lagi untuk bayar kuliah satu semester, dan akhirnya dia memutuskan untuk cuti kuliah sementara sambil mengambil pekerjaan yang pada akhirnya membawanya ke kantor gw.

Mendengar semua ceritanya, gw bahkan bingung harus komentar apa. Gw cuma bisa malu. Iya, malu. Mbak Y dengan hidupnya yang dari sudut pandang gw itu…unlivable, bisa ikhlas dan tetap dengan santainya bilang, “Ya…mau gimana mbak. Tapi saya ikhlas-ikhlas aja kok, toh saya masih diberi segala kecukupan sampai hari ini… Nih buktinya saya bisa sampe di Jakarta, mau sekalian cari DVD film Korea, biar bahasa Korea saya tetap terpelihara”.

Ya ampun. Beneran, gw malu. Gw nggak pernah menghadapi kesulitan finansial untuk menempuh pendidikan. Nggak pernah harus jadi TKI supaya keluarga gw tetap bisa makan. Nggak harus mati-mati kerja demi sesuap nasi. Kerjaan gw tinggal duduk di depan komputer, dan setiap bulannya rekening gw akan otomatis terisi.

Cerita hidup Mbak Y benar-benar menampar gw untuk menyukuri apa yang gw punya. Kalau gw selalu melihat ke atas, di atas langit akan selalu masih ada langit.

Dari Mbak Y yang pandangannya sangat teduh itu gw belajar, bahwa untuk bahagia, kuncinya hanya menerima :)

-NaY-

Lupa lupa lupa!

Manusia itu memang gudangnya lupa. Lupa ini lupa itu lupa ini itu! Saya juga. Dua bulan blog ini masuk masa dorman alias tertidur tampa aktivitas berarti. Padahal banyak, banyaak banget ide-ide sehari-hari yang bisa ditulis. Tapi setiap kepikir satu topik, nggak ditulis, ujung-ujungnya, lupa!

-_-***

-NaY-

Semua berawal dari pikiran: Pelajaran dari Berlin

Beberapa waktu yang lalu gue nonton sebuah tayangan ekspedisi biologi di sebuah sungai di Kongo untuk mencari spesies ikan baru. Hal yang wow banget adalah ketika gue tau bahwa satu tim ekspedisi mereka menelusuri sungai sepanjang RATUSAN mil itu pake KAYAK. Bayangin, kayak men! It takes around four days for them to go thru the river. Waktu gue lihat (dan dengar) informasi ini, spontan gue komen, “Ajigileeeee…berapa kilometer ituuuu…. Kalow aku sih udah mejret di tengah-tengah kayaknya!” Menanggapi celetukan itu, pacar langsung memandang dengan pandangan eh-cuape-deh alias pliisss-deeeh… :D dan langsung membalas dengan komentar, “Kamu sih semua pake dipikiriiin, liat aja dulu di Berlin gimana” Hm, mendengar itu, langsung deh otak gue mengaktifkan fitur autosearch sesuatu tentang Berlin… Jadi ada apa dengan Berlin? Mari kita lanjuuutt….

Ternyata pernah suatu ketika di sebuah akhir pekan di Berlin, Jerman tentunya, gue dan si pacar memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan keliling kota. Jalan-jalan di Berlin, pada akhir pekan, benar-benar bermakna jalan-jalan karena sebagian pertokoan tutup pada hari Minggu. Jadi beda dengan ketika gue bilang jalan-jalan di Jakarta yang berarti menghabiskan waktu dengan window shopping dan menjadi mall-hopper seharian hehe. Waktu itu kita memutuskan untuk menjelajah kota berjalan kaki. Bukan apa-apa, bukan karena udara segar, bukan karena ingin olahraga, tapi karena kere hahahahha… Okay, perjalanan dimulai dari hotel Westin Grand tempat kita nginep di Friedrichstrasse, teruuusss…sampe ngelewatin Hauptbahnhof a.k.a stasiun kereta, lanjut muterin pinggir dan menelusuri dalemnya Tiergarten yang merupakan hutan kota yang guede banget, dan akhirnya di sebuah jembatan di salah satu sisi Tiergarten, ada plang informasi: Bradenburger Tor 2,2 KM. Tiba-tiba aja sodare, setelah liat plang itu gue langsung lemah lesu dan tak berdaya :D Apaaahhh??? Masih dua kiloo lagiii ke Bradenburger Toooorrr??? *pusing*:D

Setelah itu semuanya bisa ditebak, gue langsung sibuk menggerutu dan berkeluh kesah, dikit-dikit berhenti dan istirahat. Padahal sepagian itu (we have walked for around 7 hours) gue bisa jalan dengan semangat juang tinggi dan kalo diitung-itung gue udah menempuh perjalanan puluhan kilometer haha. Jadi ternyata…semangat juang itu bisa luntur hanya karena pikiran gue berkata bahwa 2,2 KM itu…jauh bok.

Oke, jadi…kalo dipikir-pikir lagi, ya bener. Semua itu berawal dari pikiran kita. Kalo kita berpikir jalan kita ke depan pasti sulit, then..hard it is :) tapi sebaliknya, kalau kita berhasil mensugesti diri kita untuk melangkah dengan pasti dan menganggap bahwa nggak ada rintangan yang akan terlalu berat untuk kita lalui, the everything will go smoothly.

Kesadaran gue tentang kekuatan pikiran ini sebenernya merupakan sebuah konsep dasar dalam eksistensi manusia deh kayaknya. Tapi yang bikin beda adalah tiap orang menyadarinya di waktu yang berbeda, tergantung apa yang mereka alami dalam hidup. Ini pula dasar pemikiran (kalau udah pada baca) buku The Secret yang sempet booming beberapa tahun lalu dengan LoA (law of attraction-nya), dimana dikatakan bahwa apabila kita memiliki sugesti positif atas sesuatu, maka sugesti positif itu pula yang akan datang pada kita dan sebaliknya. Pernah gue coba sekali waktu kuliah di Bandung, I wrote a list of my dream car, mobil sedan hitam dengan kriteria detail yang blah blah blah. And I got that car.

Hmm, jadi ya…intinya, kun mutafaa’ilan wa laa kun mutasyaa’iman! Yang kira-kira artinya be optimistic, don’t be a pessimist one! Simpel tapi dalem :)

Cheers!

-NaY-

T.R.A.N.S.F.O.R.M.A.T.I.O.N

This shows how life should be...simple -_-

Pengen pengen?

Akhir-akhir ini gue merevisi daftar things I want experience in life. Waktu berlalu, dan umur bertambah, gue pun semakin tua. Jadi…ternyata ada beberapa hal yang gue pikir udah nggak menarik lagi (cihuyy… :D ). Tapi ada juga yang tetep ada dalam daftar. Yang jelas becoming rock star udah nggak ada di list itu hahaha. Hamster breeding juga agak berubah, jadi…miara landak mini.

So here comes my new list:

  1. Miara landak mini (gee, theyre so damn cute! Uhm despite those slithery things they ate yah…)
  2. Nyuci mobil pake snow wash *sendiri*
  3. Surfing! Iya, yang di pantai itu loohhh…bukan surf the net maksudnya :D
  4. Off road-ing
  5. Balapan di sirkuit F1 (wherever it is)
  6. Belajar hair dressing
  7. Nonton Casillas di Santiago Bernabeu (tetep 1000x  CUMA nonton Casillasnya doang!)
  8. Menerbangkan pesawat
  9. Keliling duniaaaa tanpa mikir hidup, percintaan, pekerjaan, dan hal-hal lain yang hanya akan berpotensi menumbuhkan UBAN di kepala
  10. Berkarya untuk masyarakat pedalaman (owh this has been sticking in my head for quite some time)
  11. Jadi pelatih lumba-lumba di sebuah theme park
  12. Menghabiskan waktu berbulan-bulan di sebuah pondokan pinggir pantai berpasir putih yang langitnya biru terang, air jernih kebiruan, angin sepoi-sepoi, banyak pohon kelapa, udara yang sangat segar, pulau-pulau karang yang terlihat di kejauhan, tanpa internet, tanpa alat komunikasi, dan tanpa nyamuk…

Gue mencoret beberapa hal dari daftar yang melibatkan banyak keringat seperti rock climbing dan naik ke puncak gunung semeru, karena untuk ngebayanginnya aja gue udah ngos-ngosan hahaha.

Anyway, semakin tua gue, semakin pendek daftar ini :D Kenapaaa kenapa kenapaaaa…. *tone Ayu Tingting* :D

Ah sudahlah,

Cheer up!

-NaY-

Something Inside (Jonathan Rhys Meyers)

When the one thing you’re looking for

Is nowhere to be found

And you back stepping all of your moves

Trying to figure it out

You wanna reach out

You wanna give in

Your head’s wrapped around what’s around the next bend

You wish you could find something warm

‘Cause you’re shivering cold

It’s the first thing you see as you open your eyes

The last thing you say as your saying goodbye

Something inside you is crying and driving you on

It’s the first thing you see as you open your eyes

The last thing you say as your saying goodbye

Something inside you is crying and driving you on

‘Cause if you hadn’t found me

I would have found you

I would have found you

So long you’ve been running in circles

‘Round what’s at stake

But now the times come for your feet to stand still in one place

You wanna reach out

You wanna give in

You wish you could find something warm

‘Cause you’re shivering cold

It’s the first thing you see as you open your eyes

The last thing you say as your saying goodbye

Something inside you is crying and driving you on

It’s the first thing you see as you open your eyes

The last thing you say as your saying goodbye

Something inside you is crying and driving you on

‘Cause if you hadn’t found me

I would have found you

I would have found you

It was your first taste of love

Living upon what you had

It’s the first thing you see when you open your eyes

The last thing you say as your saying goodbye

Something inside you is crying and driving you on

‘Cause if you hadn’t found me

I would have found you

I would have found you

I would have found you

I would have found you

SIM Keliling? Solusi yang kewl! ^_*

Berawal dari kejadian hari Jumat, 14 Oktober lalu, dimana gue untuk pertama kalinya dicegat Pak Polisi (selanjutnya disebut PakPul) :D Hari itu memang waktunya approval committee meeting rutin yang nggak pernah cepet selesainya. Alhasil Jumat itu gue berangkat dari kantor jam lima, dengan sangat sadar melintas jalur 3 in 1 sendirian (kan udah biasa melanggar krn pake kaca gelap hahaha) dan dengan santainya berhenti di lampu merah setelah RRI. Eh tak kusangkaaa…ada PakPul yang lagi jalan-jalan ngelewatin mobil gue dan setelah dia perhatikan, dia sadar dong kalo gue sendirian. Aaaaaaaaaaa…oke saat itu gue pasrah. Dia ketok-ketok kaca dan gue buka. Pakpul: “Mbak…harus bertiga…ini udah masuk 3 in 1″; Gue: “Iya pak…maap…ngaku salah…saya pulangnya telat…” *dengan mata berkaca-kaca kayak di komik Ufo Baby*; PakPul: “Ya udah mbak, menepi dulu di depan, sama pinjam surat-suratnya”. Gue pun menepi dengan ikhlas… Lanjuuutttt… PakPul: “Mbak emangnya mau kemana?”; Gue: “Ke ancol pak, nggak tau lagi harus lewat mana, saya dari thamrin soalnya”; PakPul: “Oh gitu mbak. Udah pernah ditilang sebelumnya?”; Gue: “Belom pak…belom pernah…”; PakPul: “Berkenan ditilang?”; Gue: “Berkenan sekali pak…silahkan…ikhlas kok…hiks…” *dengan tetap berkaca-kaca*; PakPul: “Oh ya udah…oiya mbak, ini simnya dua hari lagi habis loh, tanggal 16 Oktober”; Gue: “Oh iya ya pak? Saya nggak sadar. Kalo gitu berarti dua hari lagi saya ulang tahun loh pak *penting*”; PakPul: *menyerahkan kembali surat-surat gue* Ya udah mbak…silahkan lanjutkan perjalanannya…hati-hati ya”; Gue: *bingung* Lah pak, katanya saya mau ditilang?; PakPul: “Udah mbak nggak apa-apa, kan mau ulang tahun…”; Gue: —-____—-**** dan langsung tancap gas.

Nah, dari kejadian itu gue pun langsung niat untuk memperpanjang SIM. Kenapa? Yaa…karena…soalnya…gue kan suka ngelanggar 3 in 1, nggak mau dong pelanggarannya dobel, udah cuma sendirian pake SIM kadaluarsa pulak haha. Tapi ternyata masalah waktu tidak cukup bersahabat, rempong banget kalau harus meluangkan waktu seharian penuh di hari kerja(iya seharian karena antrian SIM di Polres Tangerang itu beuh lebih heyboh daripada antri sembako dan kalo hari sabtu kesananya aw aw mending ga usah deh). Di saat bingung-bingung bombay itu gue inget pernah baca artikel tentang oelayanan SIM keliling di Tangerang. Again, bukan gue namanya kalo nggak browsing sana-sini. Dan voila! Ketemu dong infonya, walaupun info di internet agak simpang siur tentang nama tempat-tempat pakpul-nya SIM keliling mangkal, tapi modal nekad aja. Hari Sabtu berikutnya gue dan pacar langsung bergerak pagi-pagi ke tempat dimana *gosipnya* jadi tempat mangkalnya bis SIM keliling. Di situs yang gue baca, tempatnya disebut Metropolis mall. Dibrowsing lagi yang muncul Metropolis Town Square. Begitu diserahkan ke GPS, tertulis Plaza Metropolis! Haduh! Tapi lagi-lagi nekad. Kita dateng ke Plaza Metropolis karena lebih percaya sama GPS. Nanya ke satpam di sana, ternyata bener disitu tempat SIM keliling. Hmm dan ternyata semua nama mall yang gue sebut di atas itu merujuk pada tempat yang sama :D

Okay, jadi kita sampe sana bener-bener pagi, jam setengah 7. Practically belom ada apa-apa hehehe. Belom ada tanda-tanda orang yang mau bikin SIM juga. Info yang didapet dari satpam, bisnya memang baru dateng jam 9-an dan bakal mangkal di bawah gambar SUPERMEN raksasa. Kita muter-muter nyari gambar si SUPERMEN itu, dan nggak ada dooong… Adanya gambar BETMEN. Ternyata emang maksudnya itu :D Anyway, oh. Jam sembilan-an meeen -_- Okay jadi deh kita sarapan dulu di pinggir danau. Karena memang mall ini ada di depan danau kecil haha. Nah sekitar jam 8-an mulai ada kerumunan orang yang kayaknya mau bikin SIM. Setelah tanya-tanya, ternyata kita harus nulis nama dulu di selembar kertas yang nantinya dikasih ke pakpul dan dijadiin acuan daftar antrian. Waktu gue nulis nama disitu, dapet urutan ke-9. Yah…not bad lah… Nah sekitar jam 9.15 akhirnya mobil pakpulnya dateng, bis gede gitu dan catchy banget, ada tulisannya SIM keliling gede-gede.

Hmm jadi kalo dibikin singkat sih prosedurnya kira-kira gini:

  • Tulis nama di daftar antrian
  • Siapin fotokopi KTP 2 lembar dan SIM asli yang akan diperpanjang (SIM keliling ini nggak melayani pembuatan SIM baru)
  • Isi formulir dari pakpul, siapin uang 170 ribu
  • Nunggu dipanggil
  • Masuk ke bisnya, bayar, foto, dan…jadi!
Jam 10 gue udah punya SIM yang udah diperpanjang. Jadi overall setelah pakpulnya dateng, waktu yang dibutuhkan cuma sekitar setengah jam! Hihihiyy senaaang… :D Oia, untuk pemanggilan nomer urutan, diselang-seling antara cewek-cowok. Jadi buat gue yang waktu itu dapet urutan no.9, sebenernya masuk ke bisnya jadi cewek nomer dua alias di urutan sebenernya jadi nomer empat. Hehehe…menyenangkan. Tanpa pungutan-pungutan liar nggak jelas pulak. Senangnya sekarang pelayanan publik sudah lebih bersahabat… :) Anyway, ini ada beberapa dokumentasi yang mungkin berguna buat siapapun yang mau perpanjang SIM pake jasa SIM keliling ini. Ada jadwal dan penampakan bisnya, dengan foto narsis gue tentunya haha. Enjoy!
Jadwal SIM keliling kota Tangerang:
Senin: Plaza Shinta Karawaci
Selasa: Pospol Pinang Cipondoh
Rabu: Taman Royal 1 & 3 Cipondoh
Kamis: Plaza Shinta Karawaci
Jumat: City Mall, Jl. M. Toha Pasar Baru
Sabtu: Plaza Metropolis Modernland
Minggu: Carrefour Batu Ceper
Call centernya: 021-99516664
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.