Ironi kehidupan

Saat sekelompok orang membuang uang ratusan juta untuk sebuah acara sehari, bapak itu mencoba mengais rezeki. Beralas sebuah koran lusuh, bermodalkan beberapa mainan yang harganya tak seberapa.

Ketika kubeli dagangannya, ia menerawang uang yang kuberikan. Bapak itu berucap, “Ini uang berapa dek, bapak nggak bisa lihat. kembaliannya berapa?” seraya menyodorkan beberapa lembar uang lusuh, menyuruhku menghitung sendiri berapa uang kembalian yang seharusnya ia berikan kepadaku. Ah, ternyata ia bahkan sudah sulit melihat.

Ya, ini ibukota. Tak sampai satu kilometer dari Patung Pemuda! Di dalam sebuah kompleks olahraga kebanggaan bangsa ini. Tapi ini kehidupan.

Memang, man jadda wa jada. Siapa yang berupaya sungguh-sungguh, ia yang akan berhasil. Tapi apakah kau lihat bapak itu tidak berupaya dengan sungguh-sungguh?

 

-NaY-

Cerita seorang Mbak Y

Sering gw berpikir kalo hidup gw itu kok kayaknya susaaaah banget ya. Ada aja masalah, ada aja beban yang rasanya ga selesai-selesai. Dan satu hal, jemuran tetangga kok rasanya selalu lebih kinclong sih? :D Tapi, itu dulu… (ah yeah I know it sounds so lebay). But seriously, gw dapet pelajaran berarti banget tentang bagaimana IKHLAS menghadapi apapun yang telah TUHAN tetapkan untuk kita. Memang nggak auto-ikhlas dalam sekejap sih, tapi proses menuju ikhlas itu memang bertahap. Gw mau cerita tentang salah satu tahapan penting bagaimana gw mulai menjalani proses mengikhlaskan segala sesuatu dalam hidup gw.

Quite some time ago, gw lagi dalam masa bosan, jenuh banget sama segalagalanya, semuamuanya. Gw jenuh sama hidup gw, sama kerjaan gw, sama rutinitas gw, sama cara gw berpikir, sama celengan di meja gw, bahkan sama lontong sayur Bang Dul! Ehm, FYI Bang Dul itu nama pemilik counter sarapan favorit gw tiap hari di kantin kantor yang harga  makanannya sangat bersahabat sekali :D Ah ya, lanjut. Gw jenuh. Gw merasa semua kurang. Gw mau lebih. Lebih segala-galanya. Lebih duit, lebih karir, lebih agama, lebih everything.

But then, di suatu hari yang ohmaigad sangat membosankan, jam setengah delapan pagi di kantor gw udah ada tamu. Gw mikir, “Eh hellooo…semangat banget sih yaaa…gw aja males…” Waktu itu gw nggak menaruh perhatian lebih sama si tamu yang kemudian gw ketahui namanya adalah “Mbak Y”. Ya sebut aja gitu. Mbak Y. Si Mbak Y ini ternyata seorang staf dari kantor lain yang ngurusin administrasi sebuah proyek penelitian asing, dan tentu saja itu urusannya sama kantor gw.

Waktu bergulir sampai jam makan siang. Mbak Y masih stand by di seberang meja gw. Eh kalo sambil duduk berarti jadi sit by-kah? Oh okay nevermind. Hm, gw mulai tertarik. Kenapa-kah harus nunggu selama itu? Apa berkasnya belom beres? Ternyata enggak. PracticallyMbak Y udah selesai urusannya sama kantor gw dan dia minta izin untuk numpang nunggu di kantor gw sampe selesai jam makan siang. Gw mikir, aneh. Bukan gw namanya kalo nggak langung interogasi orang yang gw anggap agak aneh. Kemudian terjawab. Mbak Y ini berangkat dari Jogja (iya kantornya di Jogja) pada malam hari sebelumnya naik kereta dan nyampe jam lima pagi di Stasiun Gambir, Jakarta. Kenapa harus cari yang nyampe pagi? Supaya dia nggak perlu keluarin lagi biaya untuk bayar penginapan di Jakarta. Kenapa dia masih di kantor gw sampe jam makan siang? Karena dia nggak tau dimana harus menunggu turunnya matahari Jakarta yang super terik sampai saat nya dia harus beranjak. Dari sini cerita pun bergulir…

Mbak Y ternyata seorang mantan TKI di Korea. Dia berangkat ke Korea waktu umurnya masih 21 tahun dan tinggal disana selama sembilan tahun. Berangkat ke Korea waktu itu bukan pilihan mudah, karena dia harus meninggalkan keluarga dan *ehm* cintanya. Namun apa daya, keluarganya sama sekali bukan keluarga mampu dan dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Maka berangkatlah dia ke Korea. Di Korea, untungnya dia bekerja di pabrik dengan bos yang nggak kejam, alias nggak ada masalah sama sekali untuk masalah pembayaran gaji dan sebagainya. But please note kalo status dia adalah TKI ilegal, lagi-lagi karena keterbatasan dana. Namun musibah memang datang nggak terduga. Enam tahun dia di Korea, tiba-tiba suatu hari terjadi ledakan di pabriknya akibat kecerobohan seorang operator yang nekad mengoperasikan pabrik dalam keadaan mabuk. Dua orang pegawai mengalami luka bakar sangat parah, termasuk Mbak Y. Kulit wajah dan badan hancur, literally. Kemudian untungnya si pemilik pabrik mau bertanggung jawab atas keselamatan pegawainya. Walaupun Mbak Y berstatus pekerja ilegal, pemilik pabrik bersedia mengurus semua dokumen Mbak Y sehingga menjadi pekerja legal agar perawatan pasca kecelakaan itu dapat tercover oleh asuransi dan tidak memberatkan si pekerja. Di titik itu, dengan wajah hancur Mbak Y bahkan sudah tidak berpikir untuk menikah. Pengobatan untuk memperbaiki dampak kecelakaan itu pada tubuhnya menghabiskan waktu sampai tiga tahun. Setelah sembuh (and thank God bedah plastik di Korea itu canggih banget jadi wajahnya nggak tampak terlalu parah), Mbak Y memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Sepulangnya ke Indonesia, pada umur 31 tahun, Mbak Y menyadari bahwa untuk dapat memperbaiki taraf kehidupannya, dia harus memiliki sertifikat legal yang membuktikan kemampuannya dalam berbahasa Korea. Maka dia memutuskan untuk KULIAH. Ah dan wow, dia berhasil masuk ke jurusan bahasa (atau sastra ya?) Korea di sebuah universitas negeri terbaik di Indonesia yang terletak di Jogja. Jatuh bangun, pasti. Tapi dia tetap semangat. Biaya dikumpulkan sedikit demi sedikit sambil menjadi penerjemah untuk siapapun yang butuh penerjemah bahasa Korea.

Saat dia memutuskan untuk kuliah, tak disangka dia juga ketemu mantan pacarnya dulu yang ternyata baru beberapa bulan ditinggal mati istrinya. Si pria, sebut saja Mas W, sudah memiliki satu anak. Namun ternyata cintanya pada Mbak Y tak pernah padam (oke, bahasanya jijik :D ). Mas W bersedia menerima Mbak Y dengan segala kondisinya kini dan begitupun Mbak Y, yang mau menerima Mas Y yang statusnya sudah duda beranak satu. Namun memang Mbak Y sayaaang banget sama anak Mas W. Dia bahkan berjuang agar anak Mas W bisa tinggal dengannya (sebelumnya dirawat oleh keluarga almarhum istri Mas W), karena katanya dia melihat anak itu nggak terurus. Dia ikhlas menjadikan anak itu anaknya sendiri yang dia rawat dengan penuh kasih sayang.

Suami Mbak Y, alias Mas W, saat itu bekerja sebagai buruh pabrik di Semarang yang penghasilannya sangat kecil. Akhirnya Mbak Y meminta suaminya untuk tinggal di Jogja agar dapat berkumpul hidup sebagai keluarga dan mengikhlaskan bahwa Mbak Y saja yang bekerja, Mas W diminta untuk merawat anaknya di rumah agar si anak tetap dapat kasih sayang orangtuanya.

Empat tahun berlalu, Mbak Y udah di ujung masa kuliahnya. Sidang sudah beres, tinggal revisi skripsi saja yang belum. Namun lagi-lagi siapa yang bisa menebak datangnya musibah. Ayah Mbak Y meninggal, dan dosen pembimbingnya di kampus berjanji akan memberi kelonggaran administratif agar Mbak Y dapat mengurus keluarganya dulu. Maka pulanglah Mbak Y ke kampung halamannya, bersusah payah dengan kondisi keuangan yang semakin sulit dan mengurusi semua urusan pemakaman ayahnya. Sekembalinya dari kampung halaman, ketika dia kembali ke kampus untuk melanjutkan urusan akademik, ternyata batas waktu pengumpulan hasil revisi skripsi sudah lewat dan sang dosen pembimbing yang berjanji membantu memberi kelonggaran administratif itu pun sudah terlanjur berangkat ke Korea untuk menempuh pendidikan doktoral. Naas. Dosen lain tidak ada yang peduli dengan nasib Mbak Y yang setengah mati menuntaskan kuliahnya dengan keterbatasan biaya. Tidak ada toleransi, peraturan universitas menyatakan dia harus mengulang sidang skripsi itu di semester depan, yang berarti dia juga harus membayar biaya semester dan sidang lagi. Tapi tetap, Mbak Ynggakprotes. Kenapa? Karena…dia dengan polosnya bilang, kalau dia protes ke Dekanat dan ada yang membelanya, kasihan beberapa dosen yang tidak memberi toleransi itu nanti kena masalah di masa depan. Oke sodara, jadi intinya dia nggak tega sama dosen-dosen yang ngotot mendzaliminya.

Mbak Y udah nggak sanggup lagi untuk bayar kuliah satu semester, dan akhirnya dia memutuskan untuk cuti kuliah sementara sambil mengambil pekerjaan yang pada akhirnya membawanya ke kantor gw.

Mendengar semua ceritanya, gw bahkan bingung harus komentar apa. Gw cuma bisa malu. Iya, malu. Mbak Y dengan hidupnya yang dari sudut pandang gw itu…unlivable, bisa ikhlas dan tetap dengan santainya bilang, “Ya…mau gimana mbak. Tapi saya ikhlas-ikhlas aja kok, toh saya masih diberi segala kecukupan sampai hari ini… Nih buktinya saya bisa sampe di Jakarta, mau sekalian cari DVD film Korea, biar bahasa Korea saya tetap terpelihara”.

Ya ampun. Beneran, gw malu. Gw nggak pernah menghadapi kesulitan finansial untuk menempuh pendidikan. Nggak pernah harus jadi TKI supaya keluarga gw tetap bisa makan. Nggak harus mati-mati kerja demi sesuap nasi. Kerjaan gw tinggal duduk di depan komputer, dan setiap bulannya rekening gw akan otomatis terisi.

Cerita hidup Mbak Y benar-benar menampar gw untuk menyukuri apa yang gw punya. Kalau gw selalu melihat ke atas, di atas langit akan selalu masih ada langit.

Dari Mbak Y yang pandangannya sangat teduh itu gw belajar, bahwa untuk bahagia, kuncinya hanya menerima :)

-NaY-

Three Gratitudes

Berawal dari sering nyolong liat-liat timeline twitternya chaa :D , jadi sering liat salah satu temennya setiap hari selalu ngetweet tiga gratitudes alias rasa syukur yang didapatkan selama hari itu. Hmm…really inspiring dan tergugah untuk ikut-ikutan. Kenapa? Karena…secara langsung memaksa gue untuk berpikir tentang nikmat yang Tuhan kasih hari ini. Karena gue pikir juga, dengan kita mengingat setidaknya tiga nikmat dan bersyukur atas itu, pasti akan menghalau segala perasaan “kurang” yang seringkali muncul. Bersyukur itu penting Bung! :D

-NaY-

Bahagia adalah…

Berhasil membuat Opa tersenyum ketika pada malam takbiran 2008 gue pulang ke Jakarta bawa baju koko buat opa yang gue beli dengan uang gaji gue sendiri, dan beliau sangat senang. Saat itu Opa tersenyum lebar dan langsung minta tolong Ibu (nenek gue) menyiapkan baju koko itu untuk dipake untuk solat Ied pagi harinya (padahal Ibu sebelumnya udah nyiapin baju koko juga). Wwaktu itu Opa sedang sangat sakit, dengan sirosis yang entah sudah seburuk apa. Ternyata itu lebaran terakhir bersama beliau… :’)

-NaY-

Menciptakan zona nyaman

My Working Space

Dari dulu saya nggak pernah memperhitungkan gaji untuk sebuah pekerjaan. Hal yang lebih penting bagi saya adalah suasana di tempat kerja, karena bagaimanapun, hasil kerja akan baik kalau suasana hati nyaman. Berada di tempat yang nyaman…itu yang selalu saya inginkan. Nyaman, juga nggak selalu identik dengan uang banyak. Itulah yang dulu menjadi alasan saya untuk menerima sebuah pekerjaan yang -bayangpuuun- gaji awalnya sebesar satu juta rupiah per bulan. Nggak kurang, nggak lebih. Hehehe, itu sekitar tiga tahun yang lalu, dan buat keluarga saya (khususnya ayah saya yang bekerja di perusahaan multinasional) adalah sebuah pilihan yang sangat-enggak-logis-banget-sih. Untuk seorang lulusan S1 yang ehm, lulus dengan predikat dengan pujian dan menyelesaikan studi dalam waktu tiga-setengah tahun, whew! It was a big joke! Tapi saya tau sejak pertama kali saya bertemu dengan orang-orang di kantor itu bahwa saya akan merasa nyaman berada di sana. Suasana yang sangat kekeluargaan menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Saya kira rasa nyaman itulah yang pada akhirnya mempengaruhi hasil kerja dan siapa sangka dalam waktu enam bulan ternyata gaji yang saya terima naik tiga kali lipat.

Namun ternyata peruntungan itu tidak berlanjut di tempat kerja saya yang sekarang. Saya menemukan bahwa bekerja di instansi pemerintah merupakan sebuah cobaan. Tak lain karena begitu banyaknya politik tingkat tinggi yang terlibat, membuat pihak-pihak haus kekuasaan bertebaran dimana-mana. Beberapa teman menyebut saya idealis, dan jelas tidak cocok bekerja untuk negara yang (meminjam istilah gaul) bisa dikatakan sudah kotor secara sistemik. Namun saya berpikir, terserah mereka mau apa, sekotor apapun permainan orang lain, yang penting saya harus bisa jaga diri. Itu saja.

Akhirnya saya sampai di suatu titik dimana sya tau bahwa zona nyaman bukanlah ditemukan, namun diciptakan. Berada di air keruh bukan berarti saya ikut menjadi keruh. Tidak. Saya tau saya hanya satu titik mikroba yang nggak keliatan dan jelas tidak punya posisi dan kemampuan untuk mengubah sistem. Jadi untuk sekarang, cara saya menciptakan zona nyaman adalah dengan tidak begitu mempermasalahkan apa yang terjadi di sekitar saya. Saya akan tetap melakukan pekerjaan saya dengan baik, berteman dengan orang-orang baik, menikmati hidup dengan orang-orang tersayang, dan merasa cukup dengan apa yang telah saya miliki. Bagaimanapun, di lingkungan seperti ini, rasa ingin mencapai sesuatu yang lebih adalah pintu untuk menghalalkan segala cara untuk capaian tersebut.

Nikmati hidup, merasa cukup, dan banyaklah tertawa! :D

-NaY-

“Kapan??”

Kalau baca judul di atas, apa yang kira-kira muncul dalam pikiran? Kalau buat saya sih ya…eneg haha. Kapanpun dimanapun, pertanyaan yang selalu diajukan (banyak) orang adalah “KAPAN??”. Kata tanya yang satu ini jelas merujuk pada kapan saya melangkah menuju pelaminan :D Bukan hal yang aneh sebenarnya, mengingat usia yang sudah beranjak (terlampau) dewasa, dimana dalam kurun waktu tiga bulan lagi saya sudah akan berusia 25 tahun. Pertanyaan ini juga seringkali dirasa cukup mengganggu untuk orang-orang, eh ehm, khususnya wanita-wanita seumuran saya, baik yang menjomblo ataupun sudah punya pasangan tapi belum melangkah ke pernikahan.

Datang ke nikahan teman, acara keluarga, bahkan kongkow-kongkow sekalipun bisa dibumbui dengan pertanyaan ini. Apalagi untuk kasus saya, yang memang sejak berusia 18 tahun tidak pernah tidak punya pasangan tapi ya itu…nggak maju-maju.  Namun satu yang saya yakini, hanya saya yang tau apa yang terjadi dalam hidup saya, setiap detail, setiap kesempatan, setiap momen untuk maju, mundur, atau diam. Satu pepatah paling pasaran berbunyi, “hidup itu tentang pilihan”. Benar, hidup memang pilihan. Dalam hidup setiap manusia disodori berbagai pilihan yang akan menentukan jalan hidupnya ke depan. Dulu saya pernah disodori sebuah pertanyaan dalam wawancara penting untuk menjadi diplomat negeri ini, mengenai apa yang akan saya lakukan seandainya saya seorang diplomat sementara suami saya harus ditugaskan di dalam negeri dan harus senantiasa berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Pertanyaan itu saya jawab dengan ringan, “Saya akan ikut suami dan berhenti jadi diplomat”. Hasilnya mudah ditebak, saya ditolak haha. Saat itu banyak orang berkata saya bodoh. Tapi kembali, itulah pilihan.

Ketika saya memutuskan belum akan melangkah ke pernikahan dalam waktu dekat, itu pilihan yang saya ambil. Pertimbangannya tentu tidak sedikit, namun cukup saya yang tau. Itulah sebabnya sangat jarang saya bertanya kepada orang lain tentang kapan mereka akan melangkah ke pernikahan kecuali kepada teman-teman sangat dekat dan tentu, dengan nada menggoda yang jelas-jelas disengaja :D

Melihat ke sekitar, saya kira banyak yang mengalami apa yang saya alami dan rasakan. Ada seorang teman yang sejak bertahun-tahun yang lalu putus-nyambung dengan sang pacar, dan semua orang terus bertanya kenapa mereka tidak menikah saja daripada terus-terusan seperti itu. Namun saya memilih untuk tidak berkomentar, itu hidup teman saya dan dia tau apa yang sedang dia lakukan. Atau seorang teman lain yang pintar, cantik, anak orang kaya, punya karir bagus, ah..kalau orang bilang sih nggak ada kurangnya. Namun nggak pernah bisa bertahan pacaran lebih dari setahun. Kenapa? Ya…itu pilihan dan pertimbangan si teman itu sendiri. Saya dan orang lain di sekitarnya nggak berhak menilai dan membuat keputusan apapun atas hidupnya. Orang lain cukup menjadi penonton dan menghormati setiap keputusan seseorang. Saya kira itu yang terbaik.

Jadi ya…I’ll be ready when I am. I’m sure of it :)

-NaY-

Don’t take religion too seriously

Jakarta, 19 Juli 2011

“Don’t take religion too seriously. (Dr. Franz Magnis Suseno on his today’s lecture in INA-Germany Intl Summer School)”. Itu adalah tweet seorang kawan beberapa saat yang lalu. Sedikit menggelitik hati, namun sangat menguras pemikiran.

Pertama: Apa yang mendasari doktor tersebut mengeluarkan statemen itu? Kedua: Kalau bukan agama lantas apa yang menjadi panduan manusia dalam menjalankan hidup?

Kita mulai dari yang kedua. Saya dan pacar saya, walaupun sudah lama bersama tapi terdapat perbedaan dalam menghadapi sesuatu, misalnya dalam hal memanfaatkan barang. Pacar saya setelah membeli barang, barang tersebut langsung dicoba untuk digunakan. Sementara itu, saya berusaha membaca buku panduannya sambil mengutak utik kemampuan barang tersebut. Contoh konkrit, disaat kita memiliki telepon genggam baru, dia sibuk mengutak ngutik berbagai fitur yang ada, sementara saya membaca buku panduannya sambil sesekali mencoba mengaplikasikannya pada telepon genggam tersebut.

Hasilnya, beberapa kali dia merasa kesal karena dia merasa handphone tersebut tidak bersahabat dengannya, sementara saya merasa sangat terbantu dengan kinerja yang ada karena buku panduan dengan jelas menyatakan bagaimana kemampuan telepon genggam tersebut. Demikian pula dengan hidup. Saya bukan seorang yang ahli di bidang keagamaan ataupun keyakinan, namun simulasi diatas saja cukup membuat saya yakin, bahwa untuk MENGOPERASIKAN TUBUH SAYA DI DUNIA INI PASTI ADA BUKU PANDUANNYA.

Sebagaimana telepon genggam tadi, kalau saya tidak membaca buku panduannya, bagaimana cara saya untuk mengoptimalkan kinerja setiap fitur telepon genggam milik saya? Kemungkinan yang terjadi adalah saya salah dalam mengoperasikan telepon genggam milik saya itu.

Nah, demikian juga soal agama atau keyakinan, yang saya yakini adalah sebagai panduan manusia dalam menjalani hidupnya di dunia ini (apapun agama atau keyakinannya). Kita perlu mempelajari dan mendalaminya, karena sebagaimana telepon genggam tadi, bila tidak dipelajari dan didalami maka akan terjadi penyalahgunaan fungsi keberadaan kita sebagai manusia dimuka bumi ini. Pemahaman yang dangkal akan agama dan keyakinan justru akan membawa penganutnya menuju kehancuran.

Maka itu menurut hemat saya justru agama ataupun keyakinan itu perlu mendapat perhatian yang cukup bahkan lebih serius. Nah untuk menjawab hal yang pertama, mari kita tanyakan pada Doktor yang bersangkutan.

Apalah artinya saya, semoga pemikiran yang sederhana ini dapat bermanfaat dan bila ada kekurangan agar dapat dimaklumi dan dikoreksi.

Ketika Kita Harus Memilih

Jakarta, Juni 2011

Pada hari Jumat, 3 Jun 2011, di sebuah hotel berbintang di bilangan Pancoran Jakarta terselengaralah kegiatan debat calon ketua umum sebuah organisasi alumni sebuah SLTA ternama. Debat ini melibatkan empat calon ketua umum organisasi tersebut. Kehadiran saya pada acara itu adalah sebagai panelis yang bertugas untuk melontarkan pertanyaan terkait peran organisasi tersebut untuk sektor pertahanan negara.

Dari beberapa pembicaraan saya dengan kawan-kawan yang berkecimpung di bidang pertahanan dan keamanan, baik sebagai anggota militer, polisi, kementrian ataupun sektor swasta, dapat ditarik kesimpulan bahwa “TENTARA ADALAH ALAT NEGARA, BUKAN ALAT PEMERINTAH, PARTAI POLITIK, GOLONGAN ATAU KELOMPOK KEPENTINGAN LAIN”. Setelah bimbang pertanyaan apa yang akan saya lontarkan kepada para calon ketua umum itu, akhirnya saya memilih untuk memberikan sebuah pertanyaan yang cukup sederhana, “BILA SEKELILING RUMAH DALAM SITUASI YANG SANGAT SEPI DAN HANYA ADA KENDARAAN KANTOR, SEMENTARA ANAK ANDA SAKIT, APAKAH YANG AKAN ANDA LAKUKAN?”

Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana namun menunjukan integritas seseorang, entah kepada keluarga maupun kepada tempat dia bekerja. Pertanyaan ini dijawab oleh tiga calon ketua umum dengan menggunakan mobil dinas untuk mengantar anak kerumah sakit, dengan berbagai alasan pendukung yang mereka buat masing-masing. Sementara yang satu lagi berpendapat bahwa mobil tersebut bukanlah hak dia jika digunakan utuk mengantar anaknya kerumah sakit, yang bersangkutan lebih memilih menggendong anaknya, siapa tahu ketemu kendaraan umum di jalan.

Sebenarnya pertanyaan sederhana itu bukan tanpa alasan saya lontarkan. Kendaraan milik kantor menjadi sebuah simbol kepercayaan yang diberikan oleh sebuah organisasi yang pada saat itu mutlak berada ditangan kita tanpa pengawasan melekat dari pihak pemilik. Sementara anak menjadi sebuah simbol kepentingan yang memiliki kedekatan emosional dengan kita. Keduanya dapat berubah seiring dengan dimana dan kepentingan apa yang sedang kita hadapi. Seperti misalnya, di saat seorang polisi yang sedang bekerja dihadapkan pada pelanggaran hukum oleh saudaranya atau bahkan istrinya, atau seorang perwira militer yang sedang berada dalam rapat koordinasi yang mengharuskan dia harus memilih antara kepentingan masyarakat luas atau korpsnya. Pilihan-pilihan yang demikian sering harus kita hadapi dan sulit kita elakkan. Memilih “YANG MENJADI TANGGUNG JAWAB ATAU YANG MEMILIKI KEDEKATAN EMOSIONAL”.

Berkaca pada sebuah cerita tentang seorang penguasa negara yang sedang mengerjakan surat-surat kenegaraan pada malam hari. Disaat sedang asik-asiknya mengerjakan tugasnya, datanglah anak sang penguasa mengetuk ruang kerja sang penguasa. Seketika itu pula dia mematikan lampu minyak yang sedang digunakannya dan menyalakan lampu minyak yang lainnya. Ketika sang anak bertanya mengapa sang penguasa melakukan itu, jawabannya ternyata sederhana, “KARENA MINYAK LAMPU YANG SATU DIBELI DENGAN UANG NEGARA MAKA LAMPU ITU SAYA MATIKAN”.

Demi anak dan keluarga adalah sebuah alasan yang cukup masuk akal dan dapat diterima oleh nalar. Tapi alasan itu juga yang membuat seorang pejabat negara menggunakan uang departemennya demi pengobatan anaknya yang sakit. Alasan itu juga yang membuat seorang penguasa negara membuat aturan yang menjamin agar anaknya dapat mendapatkan untung besar dalam sebuah bisnis. Alasan itu juga yang membuat seorang pebisnis mengorbankan kepentingan masyarakat luas untuk menjamin anaknya dapat hidup dengan “layak”. Alasan itu juga yang membuat seorang pengemudi dapat membahayakan nyawa orang lain untuk menjamin anaknya punya cukup waktu entah bersama dia atau waktu untuk melakukan hobi sang anak.

Saudaraku, kamu hanya satu dari empat, menggambarkan juga seberapa banyak orang diluar sana yang sependapat dengan kamu. Berat memang, dan perjuanganmu akan sangat sulit. Namun saya yakin, perjuangan itu tidak akan sia-sia. Selamat berjuang, semoga “TIDAK AKAN PERNAH ADA SESUATU YANG BUKAN HAK YANG KITA BAWA PULANG”, amin.

-toe-

How to keep your relationship?

Postingan edisi Valentine (basi dikit gapapa lah, belom jamuran kok haha)

You know there’s this old saying that experience is the best teacher? Gw percaya itu :) I failed once, I won’t fail twice. Let me say this, I’ve learned that some things are really crucial to make your relationship works. Or to keep your current relationship. Ini beberapa hal yang gw anggap sangat penting:

1. Being romantic. Okay. Terdengar bodoh dan menggelikan. But believe me, it’s true. Most couples are so sweety-cheesy-romantic at the beginning of their relationship. But soon as they feel that they already have each other, kemesraan berkurang. Memang nggak akan langsung terasa, tapi seringkali kemesraan berkurang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya akan cenderung pada cuek. Tidak begitu peduli pada pasangan, berdalih dengan alasan saling percaya, tapi sebenarnya itu adalah bentuk ketidaktahuan dan ketidakpedulian pada pasangan. Pada awal hubungan sepasang kekasih selalu gandengan tangan kemana-mana, bertukar kata-kata mesra, saling memperhatikan, saling mencemaskan. Tapi bayangkanlah sebuah hubungan yang telah berjalan, hmm…let’s say 3 tahun. Atau lebih. Kebanyakan pasangan mulai menjadi “hambar”. Akhirnya di titik ini gw mengerti kenapa sering dikatakan bahwa 3 tahun adalah waktu paling rawan untuk pasangan. They begin to not care :)

2. Jealousy dan rasa posesif. I’m telling you this now. Women like (ehm, sebetulnya, NEED) to be claimed. Wanita sangat suka diklaim sebagai milik seseorang, karena itu memberi mereka rasa percaya diri, memberi mereka rasa nyaman, bahwa mereka dianggap berharga. Bahkan wanita paling independent, paling mandiri-pun, tetap wanita. Mereka butuh pria untuk memberi rasa aman. Wanita suka dicemburui, karena jealousy adalah sebuah bentuk penyaluran cinta. Wanita butuh dicintai.

3. Saling menghargai. Ini penting banget. Memang, seorang wanita akan melakukan apapun atas nama cinta untuk pasangannya. Tapi tentu saja hal ini harus berlaku timbal balik. Wanita bukan sekedar tukang masak, tukang cuci, tukang beres-beres rumah, baby sitter, atau bahkan supir anak-anak. Wanita butuh perhatian dari pasangannya. Saling menghargai, saling membantu, dan saling memperhatikan :)

4. Komunikasi. Pertahankan komunikasi bagaimanapun caranya. Tidak ada alasan untuk memutuskan komunikasi atas dasar apapun. Setidaknya telepon pasangan setiap hari. Pastikan dia baik-baik saja. Segera diskusikan masalah yang muncul. Tidak ada solusi yang lebih baik dari diskusi. Bahkan kalau perlu sediakan media komunikasi pasangan, entah itu berupa buku berdua, atau blog bersama, tapi yang paling penting, pastikan kedua belah pihak berkontribusi dalam menjalin komunikasi itu. Kalau nggak, ya nggak ada gunanya juga.

5. Verbalisasi perasaan. Nggak semua orang bisa telepati. Kalo nggak ngomong, pasangan nggak akan mengerti what you feel. Satu lagi tentang verbalisasi perasaan, ini juga meliputi verbalisasi cinta. You need to tell him/her that you love them. It’s true. Tell them! Now! Katakan pada pasangan betapa berartinya mereka for you.

6. Nah ini nih. DON’T EVER TRY TO CHEAT ON YOUR SOULMATE :) . Kalo emang udah nggak nyaman sama satu hubungan, selesaikan. Kalo mau putus, katakan putus. It would be better than mencoba sekuat hati mempertahankan hubungan itu tapi nggak bisa.

Hmmm…baru kepikiran segitu nih. Ini pandangan pribadi gw sebagai seorang wanita. Let’s discuss :) Semoga berhasil with your relationship. Remember, love is all about giving, accepting, and forgiving. Jangan biarkan muncul celah untuk orang lain masuk ke hati your lover. Because, believe me, it will hurt you both. And you will never know what will comes next. All you have to do is pour your love continuously, nourish it with the REAL love. Good luck :) Don’t make the same mistakes as I did.

-NaY-

*pindahan dari blog lama yang udah terbengkalai*

Dua tahun yang…undescribable

Hanya ingin berbagi…

Januari 2009. Gw memutuskan untuk menyerah pada ambisi, ambisi seorang bocah 22 tahun untuk mengambil kesempatan beasiswa S2 di Jakarta. Pilihan yang sulit banget, karena pada waktu itu gw masih menempati posisi yang sangat sangat nyaman di sebuah perusahaan swasta di Bandung, dengan gaji yang jauh lebih besar dari yang gw terima sekarang. Juga menjadi pilihan yang sangat sulit, karena orang yang gw sayang pada waktu itu meminta gw untuk nggak pergi. But again, I gave it in. I gave up to selfish ways.

Juni 2009. Gw balik ke Jakarta, memulai hari-hari yang gw pikir, “keren banget!” Well, berapa banyak sih orang yang hidupnya selancar gw waktu itu? I thought I have the world in my hand. Sombong.

Sepanjang tahun 2009. Hidup gw mulai terasa berantakan. Sekolah yang gw banggakan, ternyata nggak lebih dari ambisi sekelompok orang untuk mendapat jabatan dan kekuasaan, tanpa memikirkan hidup orang lain yang hancur karena apa yang mereka lakukan. Gw mulai hilang arah, nggak tau lagi apa yang gw cari. Apa yang gw dapat waktu itu? Toh hal yang sebelumnya sangat berarti buat gw, love life selama lima tahun, juga kandas. Gw hilang, tersesat, benar-benar nggak tau apa yang gw perjuangkan. Namun di tahun itu pula gw ketemu seseorang yang membuat gw bisa bertahan untuk menyelesaikan apa yang sudah gw mulai.

Tahun 2010. Cobaan dan cobaan. Hanya bertahan karena orang itu, yang terus memberi gw semangat. Walaupun tetap saja, ternyata sekolah itu tidak jadi lebih baik. Gw mulai merasa sia-sia, mulai merasa membuang waktu gw untuk sesuatu yang sama sekali nggak berarti. Friendship? No. Betrayal? Absolutely yes. Sekolah itu, UNHAN, menjadi sebuah neraka tersendiri buat gw. Dimana sudah tidak ada lagi yang namanya teman. Semua berusaha menjadi yang paling hebat -menghalalkan segala cara. Di tempat ini gw bertemu dengan buaaaanyak orang-orang oportunis.

Harus gw katakan, dua tahun ini benar-benar mengajarkan gw banyak hal, walaupun tidak semuanya bisa gw kuasai dengan baik. Gw belajar meninggalkan ambisi, belajar menerima segala sesuatu dengan ikhlas. Tapi tidak ada yang mudah. Ikhlas? Masih jauh. Gw belum ikhlas untuk bisa menerima kenyataan bahwa ada dua tahun dalam umur gw yang terbuang sia-sia. Nah kan? Betapa tampak tidak ikhlasnya gw? :D Gw sedang belajar untuk bisa mencari makna di balik itu, bahwa dua tahun ini tidak sia-sia.

Tetap harus ada upaya untuk membuat semuanya jadi lebih baik. Ada saat-saat dimana gw menjadi seseorang yang benar-benar brengsek, mengusir semua yang sayang sama gw untuk menjauh. Namun setidaknya sekarang gw sudah mulai bisa melangkah ke depan. Seringkali ambisi-ambisi itu datang lagi, di saat banyak tawaran (lagi) untuk melangkah lebih jauh, tawaran untuk menjadi orang hebat. Tapi gw juga harus belajar untuk berkata tidak. Belajar untuk merasa cukup. Gw punya semua yang gw butuhkan.

Semoga, semoga dua tahun ini tidak sia-sia. Semoga, gw bisa menerima semua dengan ikhlas. Semoga gw bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Amin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.