Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Ya Allah Ya Rabbi Ya Rahmaan Ya Rahiim,
Tiada syukur yang dapat menggambarkan kebahagiaan kami, karena Engkau memberikan kesempatan untuk hidup hingga saat ini. Ya Allah, di hari bahagia ini, kami mohon kepada Engkau, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami, dan jangan Engkau biarkan kami mengulangi kesalahan-kesalahan kami. Ampuni kami karena kami melalaikan perintahMu, kufur akan nikmatMu, dan sombong atas diri kami walaupun sesungguhnya kami hanyalah sebutir pasir di luasnya hamparan bumiMu.
Semoga Engkau melimpahkan kepada kami rezeki yang barakah, ilmu yang bermanfaat; yang tidak hanya berguna bagi kami tapi juga bagi orang-orang di sekitar kami. Sesungguhnya kami ingin menjadi umat terbaik yang bermanfaat bagi orang lain.
Ya Allah bukakanlah selalu pintu hati kami, agar kami selalu dapat menerima hidayahMu. Hilangkanlah segala penyakit yang ada di hati kami, yang terkadang membuat kami berpaling dari jalanMu.
Ya Allah, bimbinglah kami selalu untuk menjadi manusia yang lebih baik, hingga kelak kami siap menghadap Engkau ketika kami kembali kepadaMu. Tiada daya dan upaya melainkan dengan segala pertolonganMu, hanya kepada Engkaulah kami memohon dan meminta. Kabulkanlah doa-doa kami…
Amin…
*Doa ulang tahun dari sahabat, Melati Pertiwi
Thank you thank you thank you…
-NaY-
I enjoy laughing at myself, I really do
Maksud gw, hidup terasa lebih indah kalo kita bisa nerima apa aja yang terjadi sama kita, mau itu good things, bad things, or even silly things, iya nggak sih? *eenggaaaaakk….* Hehehe…ya gitu deh maksud gw. Gw pernah mengalami (banyak) kejadian memalukan yang susyaaaahh banget buat dilupain.
And there goes the story…
One shiny day di Anyer, gw sedang liburan sama keluarga di pantai (ehm, ya namanya juga Anyer). Entah siapa yang punya ide, gw dan beberapa anggota keluarga yang lain main banana boat, dengan sangat memaksa nyokap buat ikutan soalnya semua juga tau nyokap takuuutt banget sama air karena beliau nggak bisa berenang. Namanya juga banana boat, nggak asik dong kalo nggak numplek a.k.a sengaja dicemplungin di tengah laut. Pas dicemplungin itu gw nggak bisa berhenti ngetawain nyokap yang panik megap-megap setengah mati padahal kan pake pelampung. Setelah semua naik lagi ke atas banana boat-nya, gw dengan sombongnya sengaja duduk paling belakang dan masih sibuk ngakak-ngakak ngetawain nyokap. Eh tiba-tibaaaaa….kapalnya jalan! Gw yang masih ketawa-ketawa sombong langsung kejungkel ke belakang dan kecemplung lagi, sendirian…soalnya yang lain udah pada pegangan semua -_- Dan lumayan lama buat keluarga gw menyadari dan menoleh ke belakang untuk ngeliat gw udah ilang dari atas banana boat. Begitu sampe lagi ke pantai, pembantu gw dengan polosnya nanya, “Mbak tadi ngapain, kok nyemplung sendirian…orang-orang tadi disini pada ketawa…” Jadi moral of the story-nya: Jangan kualat sama orangtua.
Anyway, gw juga inget satu kejadian lagi, waktu gw masih SMA, eh, MAN deng. Madrasah Aliyah Negeri. Gw lagi semangat-semangatnya ikut ekskul Tae Kwondo. Suatu hari, ada turnamen Tae Kwondo antarsekolah dan gw, yang waktu itu masih ecek-ecek, nekat ikutan (emang nggak pernah nggak ecek-ecek sih
) Peraturan turnamennya, bocah ecek-ecek nggak boleh ikutan. Jadiiii…gw pura-pura nggak ecek-ecek, make sabuk yang tingkatannya lebih tinggi untuk ikut turnamen itu. And yeah, gw dapet lawan yang udah sabuk merah (baca: udah sangat jago banget). Tapi gw pede aja. Buk! Bak! Buk! Duer! Ciaaaatttt!!! Pertandingannya mulai. Gw udah ngerasa seru banget. Tapi eh eh eh…di tengah pertarungan yang seru itu…gw melihat sesuatu melayang ke tengah arena pertandingan: HANDUK PUTIH. Tidaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk…..handuk putihnya…dari kubu gw…alias pelatih gw menyatakan gw menyerah hahahahahhaa… Ya iyalah setelah gw pikir-pikir sebenernya di pertandingan itu gw cuma berfungsi sebagai samsak buat lawan gw dan poin gw minus alias kebanyakan bikin pelanggaran hahahahaha. Gembeeeellllll… Meeeen…anduk putih di tengah pertandingan antarsekolah, diliat buaanyak orang. Hancur sudah reputasi gw (gayanya kayak yang pernah punya reputasi aja
).
Well well…yaa..gitu deh. Dengan hal-hal botol (bodoh dan tolol) kayak gitu seenggaknya hidup gw jadi berwarna
Ehm, sebenarnya cuma pembenaran aja sih hahahaha…
Okay then, I already tell ya maaa storeeeez, now how ’bout yours? ;p
-me-
…Bzzzz….bzzzzz…. (my cellphone vibrates)
A : Hello? This is Ariadna.
Me: Yes, sure, I’m Aryana.
A : Eh, uhm…yes, I need your help.
Me : I’m confused here, who’s this?
A : Ariadna…
Me : Yes I’m Aryana. Who’s speaking?
A : Uhm, I’m at the immigration office…
**suddenly rings a bell in my stupid head**
Me : Oooooohhhhhh…A-R-I-A-D-N-A….
……Bzzzzzzzzz….end of conversation….
Hari ini bibik di rumah gw masak sop. Pake makaroni, telur puyuh, kentang, dan banyak lagi teman-teman sejenisnya. Tapi emang dasar gw orang Indonesia banget (lebih spesifik lagi, PADANG), semua ga lengkap tanpa hadirnya rasa pedas. Jadi gw tambahin deh sambel botol ke sopnya, baru berasa maknyuuuusss….
Ngeliatin botol sambel dan semangkok sambel setan di meja makan, gw jadi inget dan mikir tentang sebenarnya betapa cabe-cabe Indonesia itu powerful. Gw inget waktu di Aussie sempet kenal seorang supir bis bernama Jimmy, warga negara Aussie yang aslinya orang Yunani. Si Jimmy ini suka banget sama cabe alias chili, as he call it. Gilanya lagi dia bilang, “I love chili before women”. Waktu itu gw ngakak dengernya. Tapi jangan salah, one of my friends dalam rombongan itu, cewek, ternyata juga punya pendapat sama, “I love chili before men”, katanya. Jadilah mereka nyambung kalo ngobrol. Selama di Aussie itu kita banyak makan di resto-resto yang menyediakan makanan Indonesia, and so Jimmy got as much chili as he wanted. Waktu itu dia seneng banget. Padahal sih kalo menurut gw sambel-sambel disana, walopun resto Indonesia sekalipun, ya biasa aja. Jadi gw dan beberapa temen deket janji buat ngirimin dia cabe rawit ijo alias cengek, kalo kata orang Sunda, ke rumahnya Jimmy begitu kita nyampe Indonesia, biar dia tau how real chili really taste
Beda lagi waktu di Jerman. Waktu itu salah satu guess lecturer yang ngajar kelas gw ikut makan siang bareng di schloss (kastil) tempat kita tinggal. Emang dasar orang Indonesia nggak bisa kemana-mana tanpa sambel, salah satu temen gw ngasih sambel sachet ke si pak dosen itu. Sambel sachet loh padahal. And guess what, dengan suksesnya si dosen ngabisin stok sambel di meja itu
Just for your info, si dosen ini orang Itali. Jadi secara kasar bisa ditarik kesimpulan kalo sambel Indonesia rasanya ngalahin sambel Itali hahaha.
Anyway, beberapa kejadian ini bikin mikir juga, kenapa nggak kita mematenkan varian-varian cabe dan sambel sebagai intangible cultural heritage of Indonesia atau apalah itu namanya. Ternyata sambel Indonesia itu mantap! Kalo emang niat sebenernya kan bisa jadi komoditi yang menarik tuh. Teringat juga sama kata seorang temen gw yang seorang diplomat, “Diplomasi sekarang itu nggak cuma soal politik aja Nay. Sekarang bahkan ada yang namanya diplomasi kuliner”. Well well…nah kenapa nggak dunia percabean Indonesia ini dijadiin bagian dari diplomasi kuliner Indonesia? Well at least it would make it easier for me to survive abroad, soalnya kan kalo resmi jadi bagian diplomasi kuliner, kemanapun pergi gw nggak akan susah nyari sambel hahahha.
Koran Kompas beberapa hari yang lalu juga sempat mengupas tentang diplomasi kuliner ini. Tapi bedanya, fokusnya pada diplomasi rendang yang dimotori pakar kuliner nasional, Pak William Wongso *ahhh…lagi-lagi masakan Padang…memaaang…unbeatable
*. Kalo menurut gw sih, udah saatnya kita kampanyekan cabe rawit dan sambel-sambel Indonesia ke ranah internasional, biar Indonesia nggak cuma terkenal sama skandal Peterporn dan Lumpur Lapindo-nya aja, tapi juga hal yang positif, menggigit, dan pedaaaassss…seperti…CABE… \^.^/
-NaY-
*yang seharusnya sedang menulis tentang terorisme dan pesantren di Indonesia, tapi malah nulis sambel* -_-
Me is thanking God for a blessed day she just had.
Me, turning 24 today.
Me, is growing up (of course).
Me, having one of the best days of her life today. Just today.
Me, find it difficult to complain about anything today.
Me, having best people in the world as best friends.
Me, having bunch of adorable people as family.
Me, got the most beautiful birthday present today: TOGETHERNESS.
And the most important thing Me-Girl would like to feel grateful about is…
Having him beside her, the guy who tried his best to make that girl’s day.
-I Love the Universe!-
Dulu waktu gw ikut ospek di kampus, waktu masih ambil S1, mahasiswa baru (maba) wajib memanggil senior dengan sebutan teteh untuk senior cewek dan akang untuk senior cowok. Maklumlah, gw kan kuliah di Unpad a.k.a Universitas Padjadjaran yang terletak di Bandung coret dan jelas…kental dengan budaya Sunda. Selain panggilan teteh dan akang, maba juga wajib bilang punteun alias permisi dalam bahasa Sunda kalo papasan sama senior. Nah, yang namanya ospek pasti gak lepas dari galak-galakan ala tatib kampus (yang sebenernya bikin gw ilfil berat, secara…nggak banget gitu loh) dan bikin waktu ospek beberapa hari itu cukup untuk membiasakan maba-maba polos kayak gw jadi punya auto-punteun system setiap papasan sama senior. FYI, seniornya buaaanyak banget
Ratusan, leebiiiihhhh
Time goes on dan ospek selesai, tapi maba masih tetep terbiasa bilang punteun. Nah, ada cerita kocak terkait sama auto-punteun system di otak gw waktu itu. Jadi ceritanya, suatu malam, gw mau ke kosan temen gw. Waktu itu udah di atas jam 9 malem, dan you know, yang namanya Jatinangor tahun 2004 ituuu…Oh-M-Gee…gelapnya minta ampun dan memang masih desa banget. Kosan gw di Cisaladah dan kosan temen gw di Gang Mawar (Nangoreans pasti mengenali lokasi2 tersohor yang gw sebut
). Yang namanya gang, pasti harus lewat gang-gang kan, bukan jalan tol (ya iyyaa laahh…masak ya iya doong). And so I walked there, alone. Sunyi, sepi, senyaaaap…. Modal senter dan nyali. Bener-bener butuh nyali. Bayangin aja, banyak pohon gede dan suara jangkriknya kenceng, belom lagi udara dingin. Tiba-tiba di salah satu gang yang *sumpah gelap banget amit-amit deh*, gw menangkap pergerakan tepat di samping gw, begitu gw arahkan senter, ada sosok cewek rambutnya panjang dikedepanin semua, nunduk, bajunya putih!!! Sumpaaaah…itu jaraknya gak sampe 50 cm dari gw. Lah wong lebar gangnya aja paling juga cuma satu meter. Sosok itu duduk di tangga salah satu rumah. And guess what I did at the moment?? Gw langsung bilang, “PUNTEUUUN TEEEH….” Hahhahahahhahhhh…najeeeessss…. Thank God waktu itu si sosok cewek itu langsung ngangkat kepalanya dan jawab, “Mangga neng…” Well, sebagai info aja, cewek itu ada mukanya. Mukanya gak rata kayak di film-film. Abis itu gw bener-bener lari ke kosan temen gw, dan milih lewat jalan muter yang agak terang pas balik ke kosan gw sendiri
Bahkan sampe sekarang gw masih berdoa semoga sosok tadi beneran orang, dan bawa sisir. Kenapa harus bawa sisir? Yaa…cari logical reason aja untuk menjelaskan kenapa dia harus duduk di pinggir gang sambil rambutnya dikedepanin semua. Mudah-mudahan orang lagi nyisir malem-malem. Itu aja. Amin ya Allah amiiiiinnnn….
-NaY-
Penyakit kambuhan
Malas menulis. Aw aw aw…
Akhir-akhir ini memang gw ngerasa jadi sibuk-sibuk nggak jelas gitu. Bener-bener nggak jelas. Kehidupan pribadi yang aneh, mondar-mandir sana-sini, dan kegiatan kuliah yang -semakin- nggak jelas juga. Sampe akhirnya minggu lalu gw harus tewas, terkapar di Eka Hospital selama delapan hari. Mati gaya banget. Gosipnya sih gw kena gigit nyamuk. Pengalaman baru juga sih, baru kali ini gw kena DB dan ternyata nggak enak bangeeeett… Berasa tersiksa lahir batin, bahkan at a point gw merasa gw udah gila, nggak bisa mikir dengan fokus! (ah ini memang agak lebaii). Sebenernya gw udah ngerasa nggak enak badan hari Kamis minggu lalu, tapi dasar semangat long weekend yang begitu menggelora bikin gw ngotot tetep pengen ikut acara keluarga ke Garut (eh, Cikajang deng, Garut coret). Ternyata dalam perkembangannya, baru nyampe Bandung, gw udah tumbang dan akhirnya masuk UGD di RS Advent dan udah disuruh rawat. Hiyyaaaaa….jadi deh batal ke Garut, memutar destinasi kembali ke BSD, big city big opportunity. Tapi thanks God setelah delapan hari yang menyiksa (gak ada kerjaan banget di RS), akhirnya kemaren sore gw boleh pulang juga…setelah trombositnya menyentuh angka 129 ribu. Hihihihi…. Bayangin aja, gimana nggak mati gaya, di cluster tempat gw dirawat ada 6 kamar, dari waktu gw masuk cluster itu kosong, sempet penuh, sampe akhirnya jadi kosong lagi, gw masih berkeliaran di situ! Hyaaaaaaaaa…… Nggak lagi-lagi deh sakit kayak gitu.
Anyway, bersyukur sekali ada Kodok Dua yang udah sangat membantu selama gw terkapar. Soalnya timing terkaparnya pas banget, di saat seminggu lagi udah harus berangkat (jalan-jalan terselubung) ke Aussie, dan banyak dokumen gw yang belom beres hehe… Trimsss Kodok Duaaaaa….
Gak kebayang gimana repotnya Kodok Dua bolak-balik ngurusin segala dokumen gw, dari mulai urusan visa Schengen, visa Aussie, bolak-balik BSD-Salemba-Slipi-Bandung-BSD untuk ngurusin gw yang lagi atit, dan hari Senin besok masih juga harus direpotkan urusan gw (lagi) yang belom ngeprint buku tabungan. Heheheheeee….maafkan akuuu yang merepotkan ini yaaa
Satu lagi yang masih mengganjal, seperti rasa sakit di pantat (mencoba menerjemahkan pain in the ass) adalah…THESIS. Ya ya ya…deadline pengumpulan proposalnya tiga hari lagi dan saya masih merem melek nggak makna. Gulang-guling di kasur dan tidak memecahkan masalah. Keluyuran di rumah tanpa solusi. Ooooohhhh….
sambil kedip…kedip…
-NaY-