“Kapan??”

Kalau baca judul di atas, apa yang kira-kira muncul dalam pikiran? Kalau buat saya sih ya…eneg haha. Kapanpun dimanapun, pertanyaan yang selalu diajukan (banyak) orang adalah “KAPAN??”. Kata tanya yang satu ini jelas merujuk pada kapan saya melangkah menuju pelaminan :D Bukan hal yang aneh sebenarnya, mengingat usia yang sudah beranjak (terlampau) dewasa, dimana dalam kurun waktu tiga bulan lagi saya sudah akan berusia 25 tahun. Pertanyaan ini juga seringkali dirasa cukup mengganggu untuk orang-orang, eh ehm, khususnya wanita-wanita seumuran saya, baik yang menjomblo ataupun sudah punya pasangan tapi belum melangkah ke pernikahan.

Datang ke nikahan teman, acara keluarga, bahkan kongkow-kongkow sekalipun bisa dibumbui dengan pertanyaan ini. Apalagi untuk kasus saya, yang memang sejak berusia 18 tahun tidak pernah tidak punya pasangan tapi ya itu…nggak maju-maju.  Namun satu yang saya yakini, hanya saya yang tau apa yang terjadi dalam hidup saya, setiap detail, setiap kesempatan, setiap momen untuk maju, mundur, atau diam. Satu pepatah paling pasaran berbunyi, “hidup itu tentang pilihan”. Benar, hidup memang pilihan. Dalam hidup setiap manusia disodori berbagai pilihan yang akan menentukan jalan hidupnya ke depan. Dulu saya pernah disodori sebuah pertanyaan dalam wawancara penting untuk menjadi diplomat negeri ini, mengenai apa yang akan saya lakukan seandainya saya seorang diplomat sementara suami saya harus ditugaskan di dalam negeri dan harus senantiasa berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Pertanyaan itu saya jawab dengan ringan, “Saya akan ikut suami dan berhenti jadi diplomat”. Hasilnya mudah ditebak, saya ditolak haha. Saat itu banyak orang berkata saya bodoh. Tapi kembali, itulah pilihan.

Ketika saya memutuskan belum akan melangkah ke pernikahan dalam waktu dekat, itu pilihan yang saya ambil. Pertimbangannya tentu tidak sedikit, namun cukup saya yang tau. Itulah sebabnya sangat jarang saya bertanya kepada orang lain tentang kapan mereka akan melangkah ke pernikahan kecuali kepada teman-teman sangat dekat dan tentu, dengan nada menggoda yang jelas-jelas disengaja :D

Melihat ke sekitar, saya kira banyak yang mengalami apa yang saya alami dan rasakan. Ada seorang teman yang sejak bertahun-tahun yang lalu putus-nyambung dengan sang pacar, dan semua orang terus bertanya kenapa mereka tidak menikah saja daripada terus-terusan seperti itu. Namun saya memilih untuk tidak berkomentar, itu hidup teman saya dan dia tau apa yang sedang dia lakukan. Atau seorang teman lain yang pintar, cantik, anak orang kaya, punya karir bagus, ah..kalau orang bilang sih nggak ada kurangnya. Namun nggak pernah bisa bertahan pacaran lebih dari setahun. Kenapa? Ya…itu pilihan dan pertimbangan si teman itu sendiri. Saya dan orang lain di sekitarnya nggak berhak menilai dan membuat keputusan apapun atas hidupnya. Orang lain cukup menjadi penonton dan menghormati setiap keputusan seseorang. Saya kira itu yang terbaik.

Jadi ya…I’ll be ready when I am. I’m sure of it :)

-NaY-

Dress to kill–and kill to dress

Semalem gue dan Chaa dateng ke acara alumni gathering di rumah Dubes Jerman untuk Indonesia. Quite a night, I should say. Kenapa? No no, it wasn’t about the party, the party was okay, ketemu temen-temen lama (dan baru). What made it a night adalah betapa salutnya gue melihat (dan merasakan) bagaimana para wanita mampu bertahan hidup dengan keharusan untuk memakai sepatu hak tinggi a.k.a high heels di banyak kesempatan. Termasuk pool side party semalam, yang dengan suksesnya membuat jari-jemari gue melepuh setengah mati gara-gara pake heels tali temali nan seksi namun harus bertahan berdiri di atas…tanah berumput –__–

Itu baru masalah mempertahankan cara berdiri yang oke, belum lagi harus berkeliaran kesana kemari selama berjam-jam. Hadeuuuhhh…mungkin memang gue yang nggak bakat jadi seperti wanita-wanita pejuang ibukota yang bisa lari-lari pake high heels ya.

Memang wanita…dress to kill. Or should I say…kill to dress –__–

-NaY-

Don’t take religion too seriously

Jakarta, 19 Juli 2011

“Don’t take religion too seriously. (Dr. Franz Magnis Suseno on his today’s lecture in INA-Germany Intl Summer School)”. Itu adalah tweet seorang kawan beberapa saat yang lalu. Sedikit menggelitik hati, namun sangat menguras pemikiran.

Pertama: Apa yang mendasari doktor tersebut mengeluarkan statemen itu? Kedua: Kalau bukan agama lantas apa yang menjadi panduan manusia dalam menjalankan hidup?

Kita mulai dari yang kedua. Saya dan pacar saya, walaupun sudah lama bersama tapi terdapat perbedaan dalam menghadapi sesuatu, misalnya dalam hal memanfaatkan barang. Pacar saya setelah membeli barang, barang tersebut langsung dicoba untuk digunakan. Sementara itu, saya berusaha membaca buku panduannya sambil mengutak utik kemampuan barang tersebut. Contoh konkrit, disaat kita memiliki telepon genggam baru, dia sibuk mengutak ngutik berbagai fitur yang ada, sementara saya membaca buku panduannya sambil sesekali mencoba mengaplikasikannya pada telepon genggam tersebut.

Hasilnya, beberapa kali dia merasa kesal karena dia merasa handphone tersebut tidak bersahabat dengannya, sementara saya merasa sangat terbantu dengan kinerja yang ada karena buku panduan dengan jelas menyatakan bagaimana kemampuan telepon genggam tersebut. Demikian pula dengan hidup. Saya bukan seorang yang ahli di bidang keagamaan ataupun keyakinan, namun simulasi diatas saja cukup membuat saya yakin, bahwa untuk MENGOPERASIKAN TUBUH SAYA DI DUNIA INI PASTI ADA BUKU PANDUANNYA.

Sebagaimana telepon genggam tadi, kalau saya tidak membaca buku panduannya, bagaimana cara saya untuk mengoptimalkan kinerja setiap fitur telepon genggam milik saya? Kemungkinan yang terjadi adalah saya salah dalam mengoperasikan telepon genggam milik saya itu.

Nah, demikian juga soal agama atau keyakinan, yang saya yakini adalah sebagai panduan manusia dalam menjalani hidupnya di dunia ini (apapun agama atau keyakinannya). Kita perlu mempelajari dan mendalaminya, karena sebagaimana telepon genggam tadi, bila tidak dipelajari dan didalami maka akan terjadi penyalahgunaan fungsi keberadaan kita sebagai manusia dimuka bumi ini. Pemahaman yang dangkal akan agama dan keyakinan justru akan membawa penganutnya menuju kehancuran.

Maka itu menurut hemat saya justru agama ataupun keyakinan itu perlu mendapat perhatian yang cukup bahkan lebih serius. Nah untuk menjawab hal yang pertama, mari kita tanyakan pada Doktor yang bersangkutan.

Apalah artinya saya, semoga pemikiran yang sederhana ini dapat bermanfaat dan bila ada kekurangan agar dapat dimaklumi dan dikoreksi.

Goin’ Where the Wind Blows (Mr. BIG)

Someone said life is for the taking

Here I am with my hand out waiting for a ride

I’ve been living on my great expectations

What good is it when I’m stranded here

And the world just passes by

Where are the signs to help me get out of this place

If I should stumble on my moment in time,

How will I know?

If the story’s written on my face, does it show?

Am I strong enough to walk on water

Smart enough to come in out of the rain?

Or am I a fool going where the wind blows (wind blows)?

Here I sit halfway to somewhere

Thinking about what’s in front of me and what I left behind

On my own, supposed to be so easy

Is this what I’ve been after

Or have I lost my mind?

Maybe this is my chance and it’s coming to take me away, yeah

If I should stumble on my moment in time,

How will I know?

If the story’s written on my face, does it show?

Am I strong enough to walk on water

Smart enough to come in out of the rain?

Or am I a fool going where the wind blows (wind blows)?

Here I am walking naked through the world

Taking up space, society’s child

Make room for me, make room for me,

make room for me

Am I strong enough to walk on water?

Smart enough to come in out of the rain?

Or am I a fool

Going where the wind blows,

Going where the wind blows?

 

Berhenti dari layanan premium 9388

Temans, ada yang pernah ngalamin nggak, tiba-tiba di hape masuk sms-sms berita nggak jelas dan menyedot pulsa yang nggak sedikit: dua ribu rupiah per sms! dan sehari sms-sms gituan bisa masuk berkali-kali. Kalo pernah, pasti tau dong nyebelinnya kayak apa. It happened to Chaa a while ago.

Jadi sekarang gue mau berbagi pengalaman aja, kalo ngalamin hal kayak gitu, padahal nggak pernah ngerasa daftar di layanan premium kayak gitu, best thing to do adalah langsung datengin customer service provider yang lo pake. Dalam kasus Chaa, dia langsung datengin Galeri Indosat dan meminta sms dari nomor tersebut (9388) untuk langsung diblokir dari sananya. Pertanyaannya, kenapa harus capek-capek dateng ke Galeri Indosat? Well nggak lain nggak bukan, karena kita udah nyoba segala cara untuk bisa berhenti dari layanan itu. Pertama kali sadar kalo pulsa tersedot dengan iblisnya, gue nelpon ke call center indosat dan ngomong ke CS, minta diberhentikan dari layanan itu. Si mbak-mbak CS indosat yang (waktu itu) juuuteek banget bilang kalo Chaa harus ketik STOP terus kirim ke 9388, terus tunggu selama 1×24 jam. Kalo dalam 24 jam itu ada sms dari 9388 yang masuk, dibiarin aja jangan dibales. Tapi ternyata eh ternyata, waktu dua hari kemudian ngisi pulsa lagi, si sms tetep aja dateng. Pulsa pun berkurang lagi.  Terus kita coba cara lain: ketik UNREG GAME ke 9388, dan ada balasan kalo nomor Chaa sudah di-non aktifkan dari layanan itu. Tapi seperti sudah bisa ditebak, keesokan paginya sms info game itu tetep masuk, dan kita memutuskan untuk langsung komplain ke Galeri Indosat aja.

Ternyata mbak-mbak CS di Galeri Indosat bilang justru kalo ngirim UNREG (KATEGORI) itu malah akan mendaftarkan nomor hanphone ke layanan lain dari 9388. Ouchhh…sorry to say tapiii…gw harus mengatakan ini…brengseeeekkk -_-

Jadiii…yaa…sebaiknya memang kalo mengalami kejadian di atas ya langsung aja minta berhentiin, tapi langsung ke pusat komplain (ato apalah namanya itu) masing-masing provider. Nggak ada gunanya nyoba unreg ato stop ato segala macemnya.

Sangat disayangkan memang, cara-cara kotor yang digunakan untuk berbisnis :( Semoga tulisan ini bisa membantu orang-orang senasib yang kebingungan di luar sana, karena untuk masalah ini om gugel nggak banyak membantu.

Salam,

-NaY-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.